“Saya butuh penawaran cepat nih. Tenggat waktu dari owner sudah mepet,” seru suara di ujung telpon. “Jangan khawatir,” jawab si penerima telpon, “ Ini langsung saya kirim brosur kami beserta penawaran harganya. Anda bisa pilih-pilih sesuai gambar yang anda. Bila order anda masuk sebelum pk 14:00 dan stoknya ada, barangnya besok sudah sampai di tangan anda!”.
Email, chatting, video conference, over-night delivery, on-line transaction. Semua terkait dengan konotasi waktu yang secepat kilat. Instant. Sesuatu yang menjadi ciri jaman sekarang. Jaman modern.
Kecepatan memang baik. Membuat orang bisa mengerjakan lebih banyak hal, dan menghasilkan lebih. Produktif. Kalau di dunia bisnis, memproduksi lebih banyak barang atau jasa. Peluncuran produk baru juga bisa lebih cepat dan lebih banyak. Memberi tambahan profit. Memungkinkan perusahaan tambah besar. Ekspansi. Tambah lagi profit.
Dan perlombaan kecepatan pun menjadi semakin marak. Semua orang, organisasi, berlomba-lomba menciptakan ’rekor kecepatan’ yang baru.
Sayangnya, fenomena instant ini punya efek samping yang serius: orang menjadi cepat kehilangan kesabarannya. Semua harus serba cepat. Bagaimana bila tidak cepat? Ya bisa ketinggalan. Kalah bersaing. Terpuruk. Nomer buncit.Terpinggirkan. Ketidak-cepatan, menjadi sesuatu yang tidak disukai. Cenderung menakutkan. Ketidak-cepatan tidak boleh terjadi, pada aspek kehidupan apapun. Begitu kemudian mindset yang secara tidak sadar tertanam di dalam benak.
Orang-orang yang tidak bisa cepat secara ’sehat’, mulai kelimpungan. Bingung, kehilangan akal. Dan kemudian kehilangan nuraninya. Mulai melirik-lirik jalan pintas. Mulai melanggar aturan. Mulai kehilangan tenggang-rasa pada kepentingan orang lain.
Email, chatting, video conference, over-night delivery, on-line transaction. Semua terkait dengan konotasi waktu yang secepat kilat. Instant. Sesuatu yang menjadi ciri jaman sekarang. Jaman modern.
Kecepatan memang baik. Membuat orang bisa mengerjakan lebih banyak hal, dan menghasilkan lebih. Produktif. Kalau di dunia bisnis, memproduksi lebih banyak barang atau jasa. Peluncuran produk baru juga bisa lebih cepat dan lebih banyak. Memberi tambahan profit. Memungkinkan perusahaan tambah besar. Ekspansi. Tambah lagi profit.Dan perlombaan kecepatan pun menjadi semakin marak. Semua orang, organisasi, berlomba-lomba menciptakan ’rekor kecepatan’ yang baru.
Sayangnya, fenomena instant ini punya efek samping yang serius: orang menjadi cepat kehilangan kesabarannya. Semua harus serba cepat. Bagaimana bila tidak cepat? Ya bisa ketinggalan. Kalah bersaing. Terpuruk. Nomer buncit.Terpinggirkan. Ketidak-cepatan, menjadi sesuatu yang tidak disukai. Cenderung menakutkan. Ketidak-cepatan tidak boleh terjadi, pada aspek kehidupan apapun. Begitu kemudian mindset yang secara tidak sadar tertanam di dalam benak.
Orang-orang yang tidak bisa cepat secara ’sehat’, mulai kelimpungan. Bingung, kehilangan akal. Dan kemudian kehilangan nuraninya. Mulai melirik-lirik jalan pintas. Mulai melanggar aturan. Mulai kehilangan tenggang-rasa pada kepentingan orang lain.
Berhenti mengambil penumpang di tikungan, karena kalau tidak bisa kalah cepat mengumpulkan uang setoran. Menaikkan joki supaya bisa lewat three-in one, tidak telat sampai di kantor. Menggunakan jasa petugas supaya bisa dapat SIM tanpa perlu belajar mengendarai maupun aturan lalu-lintas yang benar (toh di jalan berlaku: siapa yang berani, dia yang benar). Menekan gas saat mendekati zebra-cross, kalau tidak harus menunggu orang menyebrang yang jumlahnya banyak. Mengiming-imingi produk murah sehingga pelanggan banyak datang, tapi stoknya cuma 2 lusin sehingga banyak yang kecele. Menebar uang untuk memastikan jumlah suara memadai untuk jadi pemenang pilkada. Menyontek saat ujian karena toh semua juga menyontek. Bikin acara sadis-seks-lucu, yang penting rating tinggi dan pemasukan tinggi.
Banyak sekali jalan pintas yang ditempuh orang modern, dari anak-anak sampai orang dewasa, kadang-kadang orang renta. Menyedihkan. Kita dipaksa serba-instan. Kita dipaksa meninggalkan proses yang alami. Apa yang bisa diterabas, ya monggo saja. Kita kehilangan ritme alami. Dan pada saat yang sama, dampak ujungnya melukai dan merusak bumi. Dan sebenarnya, merusak diri kita sendiri.
Mungkin kita harus melawan fenomena serba instan. Mungkin kita harus memperlambat banyak hal. Agar kita lebih bisa memperoleh hidup dan nikmat yang lebih autentik. Dan mengurangi proses perusakan lingkungan kita .......
Banyak sekali jalan pintas yang ditempuh orang modern, dari anak-anak sampai orang dewasa, kadang-kadang orang renta. Menyedihkan. Kita dipaksa serba-instan. Kita dipaksa meninggalkan proses yang alami. Apa yang bisa diterabas, ya monggo saja. Kita kehilangan ritme alami. Dan pada saat yang sama, dampak ujungnya melukai dan merusak bumi. Dan sebenarnya, merusak diri kita sendiri.
Mungkin kita harus melawan fenomena serba instan. Mungkin kita harus memperlambat banyak hal. Agar kita lebih bisa memperoleh hidup dan nikmat yang lebih autentik. Dan mengurangi proses perusakan lingkungan kita .......

1 komentar:
Setuju, agree pak IRWAN CARE FOR LIFE..
"JALAN PINTAS ADALAH PENYAKIT ORANG MODERN"
Harus diobati..
Posting Komentar