Jumat, 01 Februari 2008

POWERFUL BUT ANTI-SOCIAL
(BERKUASA TAPI TIDAK BERADAB)


Betapa powerfulnya Orang Kaya. Apalagi orang kaya yang rakus. “Greed is good”, begitu ucapan mashyur Gordon Gecko, tokoh spekulan keuangan di film legendaries “Wall Street”. Dan berbekal keyakinan akan kebenaran motto tersebut, orang-orang dari kelompok ini merajalela, mengejar tumpukan kekayaan tanpa batas. Meski dalam upaya tersebut, ratusan juta orang bergelimpangan bertambah miskin dan sengsara hidupnya.

Segelintir orang – terutama dimotori George Soros, mendadak menjadi bertambah luar biasa amat sangat kaya di tahun 1997-1998. Kita tentu tidak ingat berapa kali lipat mereka bertambah kaya. Tapi tidak bisa kita lupakan karena ulah spekulasi mereka, begitu banyak orang kebanyakan, yang bekerja keras, banting tulang memeras keringat terkadang darah, bersusah payah memperbaiki kesejahteraan mereka dan keluarganya; mendadak sontak kehilangan pekerjaan, sekaligus mengalami pemiskinan karena mata uangnya negaranya rontok dan tingkat bunga meroket tak terkendali. Dan ironinya, dengan prestasi membuat ratusan juta orang sengsara itu George Soros dan teman-temannya tidak menjadi kriminal buruan aparat hokum internasional. Tindakan spekulasi mereka LEGAL, dan mereka menjadi selebritis yang dikenal di seantero dunia.
Syukurlah, pengharapan positif ke depan disuarakan Patricia Aburdene. Dalam buku tersohornya MEGATRENDS 2010 yang didasarkan pengamatan disokong berbagai data, ia meyakini perubahan trend di dunia bisnis – dunia yang lekat dengan kekayaan harta dan uang – bergerak semakin cepat ke arah Kapitalisme Spiritual. Istilahnya megah, tapi sederhananya mau mengatakan bahwa “Greed is Good” bergeser menjadi “Spiritualism and Socialism is Good”. Sekali lagi, syukurlah.
Tapi karena ini adalah teropong terhadap kecenderungan di masa depan. Kenyataannya, kita masih di masa sekarang; dan di masa sekarang ini, motto “Greed is Good” masih bercokol kuat dan memiliki power yang banyak bedanya dengan era George Soros. Salah satunya adalah masalah “Subprime mortgage” yang merebak di Amerika Serikat. Terus terang saya tidak paham apa yang terjadi dan mekanismenya; apa yang salah. Katanya sih itu termasuk gejala ‘gelembung ekonomi’. Gelembung kan suatu saat akan pecah, katanya. Entahlah. Tapi yang jelas utak-atik di bisnis keuangan tersebut telah membangkrutkan dan atau setidaknya menghadiahkan tumpukan kerugian luarbiasa bagi berbagai lembaga keuangan ternama, termasuk Citicorp dan Goldman Sachs. Dan tentunya sekelompok orang kaya yang mempercayakan keuangannya pada lembaga-lembaga keuangan tersebut.
Sebenarnya, di dalam hati saya bersorak. Orang-orang rakus mendapat ganjarannya. Kalau biasanya mereka mendapat untung banyak, kali ini mereka mendapat rugi banyak. Ah, akhirnya dunia bisa berlaku adil juga. Tapi, adil betulkah ? Sayangnya, tidak betul sepenuhnya. Kelompok penganut GisG di atas ini punya aturan main sendiri, yang melecehkan keadilan ekonomi itu sendiri. Bila mendapat untung banyak, mereka enggan berbagi, sehingga yang kebanjiran rejeki hanya sekelompok kecil orang, kelompok mereka. Tapi kalau terjadi kerugian, mereka sudah memastikan bahwa kerugian itu akan menyeret sebanyak mungkin orang ikut merasakannya. Termasuk orang-orang kebanyakan yang memperjuangkan kesejahteraan melalui cara normal dengan berkeringat dan mencurahkan segenap dirinya demi penghasilan yang memadai.
Itulah yang terjadi sekarang. Meledaknya gelembung Subprime Mortgage selain mengganjar pemain-pemain utamanya, langsung berimbas ke perekonomian. Selain kerugian harta nyata yang dialami kelompok GisG, rentetannya adalah sentimen pasar menjadi negative, muncul kekhawatiran di kalangan pengusaha, orang-orang yang masih punya uang mengerem pengeluarannya sehingga tambah menciutkan pasar, produksi mulai direm, supply berkurang, dan harga-harga meningkat. Gaji direm kenaikannya, sejumlah orang tidak bisa melanjutkan pekerjaannya, ekspansi usaha ditunda, dan seterusnya. Bila kemudian benar-benar terjadi kepanikan, maka sentimen dan kekhawatiran menjadi kenyataan, dan memukul ratusan juta orang-kebanyakan kembali bergelimpangan terampas tingkat kesejahteraan yang dicapainya dengan susah payah.
Itulah bentuk power orang-orang kaya rakus GisG tersebut. Selalu begitu. Untung diambil sendiri atau hanya diberikan kepada kelompok kecilnya. Tapi buntung akan dibagikan kepada sebanyak mungkin orang di dunia ini. Sehingga total jendral net-nya mereka tetap masih lebih kaya dari orang kebanyakan di dunia ini. Menyedihkan ya ?
Pertanyaannya : kapankah kelompok GisG bisa menciut dan tergantikan dominasinya oleh kelompok Spiritualis/Sosialis? Apakah gerakan CSR yang semakin menghebat merupakan tanda-tanda awal pergantian dominasi tersebut ?


Tampaknya kita perlu meyakini apa yang dipopulerkan oleh Malcolm Galdwell (2002) sebagai Tipping point. Di berbagai belahan dunia, individu, kelompok individu, kelompok masyarakat, kelompok karyawan melakukan berbagai aktivitas peduli lingkungan dan manusia lain dan tidak semata-mata menomorkan diri sendiri – suatu gerakan yang pada dasarnya berlawanan dengan ideology GisG. Meski tampaknya belum benar-benar dahsyat, pelan-pelan, setapak demi setapak, dengan akselerasi meningkat, kumpulan upaya ini akan menjadi tipping point: kondisi dimana akumulasi gerakan ini mencapai momentum yang cukup untuk menggulingkan nilai-nilai, kebiasaan, practices yang berlaku. Seperti Tipping point bersejarah yang dikomandani Vaclav Havel untuk menjatuhkan kekuasaan nyaris absolut dari Kelompok Komunis Cekoslovakia. Seperti kejadian bersejarah 21 Mei 1998 dimana salah satu pemimpin besar Indonesia yang semakin otoriter berhasil dilengserkan pada saat dimana dukungan terhadapnya semakin meluas.
Seperti itu pula, akan terjadi tipping point dimana kerakusan menjadi usang, memalukan, menjadi sifat yang dihindari. Harusnya tidak lama lagi. Dan kita bisa mencegah kondisi dimana sekelompok kecil yang powerful karena menguasai aturan main sektor keuangan dunia serta punya jiwa rakus, menjadi ompong tidak punya gigi untuk menjerumuskan banyak orang lain menjadi sengsara. Dimana system ekonomi menjadi lebih sehat. Dimana praktek lembaga keuangan seperti Grameen Bank atau Yayasan Para Sahabat menjadi model dalam berbisnis sektor keuangan. Dan deraan kesengsaraan dan ketidakadilan kepada orang-orang yang bekerja keras, bermoral dan ikhlas mendapat ganjaran kesejahteraan yang seharusnya mereka dapatkan. Saya termasuk dalam barisan orang yang berjuang untuk terjadinya tipping point ini.
LET’S LIGHT UP INDONESIA, AND THE WORLD!

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Mas IRWAN "CARE FOR LIFE"
Setuju dengan gerakan TIPPING POINT.
Ini yang saya sebut dengan era PEMIMPIN SPIRITUAL. Dimana nilai-nilai baru terbentuk yang dimotori oleh semakin banyak individu yang berubah. Nilai-nilai lama, eg greed is good, kaya is good, curang is good, maling is good, korupsi is good digulingkan rame-rame oleh rakyat banyak.
Seru deh..nanti megatrends diatas 2010.