Jumat, 15 Februari 2008

FULLY ENGAGED

Kemarin saya bertemu dengan (sebut saja) pak ‘Amin’ - saya lupa menanyakan namanya. Di sela tugas ke Surabaya, saya bersama seorang teman menyempatkan diri mengunjungi monumen kapal selam di daerah Gubeng. Usia pak ’Amin’ sudah 61 tahun, dan raut ketuaan memang sudah menguat diwajahnya.
Tetapi begitu kami sampai di geladak Kapal Selam buatan Rusia tahun 1952 itu, dengan semangat ia menyambut dan menjabat tangan kami. Dan dengan antusias memulai ceritanya. Bahwa dulu tahun enampuluhan kita (Indonesia) memiliki 12 kapal selam, kini cuma punya dua. Bahwa dulu di barat dan di timur kita punya cukup armada untuk menjaga kedaulatan negara. Kelancarannya menjelaskan tombol, tuas, berbagai panel maupun komponen mesin yang ada, menunjukkan bahwa ia memang pernah bertugas di kapal tersebut selagi baik dia maupun kapal masih berdinas aktif. ”Wah, kondisinya tidak nyaman pak. Puanaas sekali. Tidak ada AC. Tidur juga di sembarang tempat pak”, sambil menunjukkan kondisi ruangan yang memang tidak memungkinkan tidur yang nyaman. Ruang tidur perwira pun tidak jauh berbeda. ”Bahkan kalau ke toilet, harus hati-hati supaya kotorannya tidak menyembur balik,” ungkapnya sedikit tergelak. ”Kalau menembakkan torpedo pak, ya harus hitung-hitung dulu,” sambil menunjukkan seperangkat peralatan yang memang terkesan ribet. ”Angel (sulit) pak, tidak seperti sekarang semua pakai komputer,” lanjutnya lagi. Dan terus mengoceh, dari ruang ke ruang; termasuk mencoba periskop yang menghadap ke Hotel Sahid. Sambil kadang-kadang mendemonstrasikan proses kerja peralatan yang amat banyak itu. Dalam hati saya berpikir, sudah berapa ribu kali ia menjelaskan seluk-beluk kapal selam ini. Kok bisa penuh semangat begini ya. ”Dive, dive, dive!” secara tidak sadar saya menggumam, mengingat adegan-adegan film tentang situasi kritis di kapal selam.

Di dunia organisasi, kini mulai popular apa yang namanya fully engaged employee. Karyawan yang bekerja dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa, mengkontribusikan seluruh dirinya. Bila karyawan mencapai tingkatan ini, waahhh biasanya dia jarang sakit, dia tampil bersemangat, dia tidak mengeluh soal penghasilan yang kecil, dia penuh inisiatif tidak perlu didorong-dorong atau setiap kali diingatkan.
Suatu kondisi yang sangat diinginkan oleh manajemen ya ? Yess. Repotnya, kita sulit sekali menjumpai karyawan dengan tingkatan mental setinggi ini. Yang lebih banyak ada ? ”Cepek dulu dong!”, alias bayarannya berapa, ada lemburan gak, nanti saya dapat apa.
Atau ”Ngapain, yang punya perusahaan bukan; buat apa mati-matian?”. Yang lainnya, ”Ah, boss aja tidak begitu, mosok kita-kita yang cuma cecere musti berkorban ? Cape dehh .....”
Saya tidak tahu apakah pak ’Amin’ menggambarkan seseorang yang fully engaged. Dia juga tidak cerita pernah menjadi prajurit teladan atau semacamnya. Tapi melihat kesungguhannya melakukan pekerjaan (yang pasti sudah dilakukannya ribuan kali), saya angkat topi. ”Dulu kami dilantik dalam posisi kapal ’duduk’ di laut pak, di pasir putih” saya bisa merasakan kebanggaan dalam nada suaranya. ”Sekarang ya, dilantik di darat saja.”. Mungkin upacara seperti itu ya salah satu cara menumbuhkan ’kesungguhan’ dan ’kecintaan’ pada pekerjaan, menumbuhkan kondisi fully engaged. Mungkin juga tipe orangnya. Entahlah. Yang jelas, saya mengucapkan terima kasih padanya yang tulus dari hati. Setelah hampir 45 menit di entertain oleh cerita dan penjelasannya yang penuh semangat di dalam ruangan sempit berukuran panjang bersih tidak sampai 60 meter. Wawasan saya bertambah, tapi terlebih lagi hati saya diperkaya oleh keteladanan pak ’Amin’ menjalankan tugasnya sepenuh hati. Mungkin banyak di antara kita yang perlu belajar bagaimana agar kita bisa lebih sering fully engaged. Demi kenyamanan, kepuasan, dan kebahagiaan kita sendiri dalam menjalani kehidupan dan pekerjaan. Demi kesehatan jiwa kita sendiri.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Benar pak Irwan, fully enganged, situasi hati [love to profession, to work, to good life] yang dimainkan. Baru setelah itu olah pikiran. PAK AMIN pasti cinta dengan pekerjaannya, pertama. Setelah itu baru ia berkorban mati-matian tidak bosan bekerja, meski gajinya kecil..untuk level surabaya..kota besar.
Masih banyak pak Amin-pak Amin di nusantara ini..Sehingga alam masih terjaga dan Tuhan belum rela mengganjar KERUSAKAN kehidupan yang diakibatkan oleh kejamnya perilaku manusia, dengan musibah/bencana besar-besar. Kecuali???