Selasa, 05 Februari 2008

ORANG KAYA

Apakah anda tergolong Orang Kaya ? Menjawab pertanyaan ini, sebagian besar dari kita secara otomatis ’menghitung’ harta yang kita punyai : uang di dompet, di brankas, deposito, reksa dana, rumah, mobil, dll. Dan kesimpulannya : ya, saya tergolong orang kaya, atau hampir kaya, atau malah kaya raya.
Kaya harta bisa berdampak positif, sehingga menjadi orang yang kaya harta itu baik. Motivator dahsyat Tung Desem dalam buku larisnya ”Financial Revolution”, memotivasi kita agar menjadi kaya secara finansial/harta, karena menurut beliau hal itu baik adanya.
Sebaliknya, terlalu bersemangat mengejar kekayaan harta, bisa membuat orang menimbulkan keburukan. Harta menjadi obsesi dan tujuan akhir dalam kehidupan ini, sehingga aspek dan nilai-nilai lain termasuk kemanusiaan seringkali tersingkirkan demi harta, harta, dan harta. Greed ini saya bahas dalam tulisan ”Powerful but Anti-Social”. Sejalan dengan ini, sahabat dan mentor saya Harry-uncommon mengumandangkan slogan ’hidup bukan untuk kaya’. Karena kaya harta seringkali memunculkan kerentanan manusiawi kita: lupa diri, jumawa, merasa lebih dari orang lain, dan itu tadi, rakus.
So, Kaya itu baik atau buruk ? Bingung juga, ya. Untunglah seorang dai kondang memberi pencerahan kepada saya mengenai hakikat Kaya. Sesuai dengan judul bukunya, ia mendorong semua orang HARUS KAYA. Tetapi pengertian KAYA harus diperluas. Menurutnya, kita harus memiliki 5 kekayaan dasar terlebih dulu, yang secara indah disingkatnya menjadi GIGIH. Kekayaan yang pertama adalah ghirah, atau semangat. Orang bersemangat punya kekayaan yang tidak dimiliki orang loyo. Kekayaan kedua adalah input, berupa pengetahuan, wawasan, ilmu, kompetensi, pengalaman kerja, pengalaman hidup. Kekayaan ketiga adalah Gagasan. Orang dengan inisiatif, ide, kreativitas tentu lebih kaya dibanding orang yang pasif dan menunggu petunjuk bapak. Kekayaan keempat adalah Ibadah, melakukan segala sesuatu dijalan yang diridhoiNya. Dan kekayaan dasar ke lima adalah Hati: keikhlasan, kerendahan hati, kepedulian, mentalitas kelimpahan. Orang Kaya GIGIH, kalau belum Kaya Harta, tinggal menunggu waktu saja. Dan Kaya Harta-nya menjadi berkah. Sebaliknya orang yang sudah Kaya bahkan Kaya Raya, bila miskin GIGIH, hartanya bisa tidak langgeng. Atau terus dihantui ketakutan hartanya berkurang atau hilang, sehingga semakin obsesif untuk mencari dan mengamankan hartanya. Dan kehilangan kesempatan untuk membuat hartanya menjadi berkah. Dan terutama kehilangan kesempatan meraup nikmat dari kekayaan GIGIHnya. Ah, betapa kasihan-nya. Alias, kasian deh loe!
Inti dari pemaparan sang dai adalah : bahwa tolok ukur Kekayaan adalah KEBERKAHAN, yaitu seberapa bermanfaat bagi diri sendiri, orang lain, dunia, akhirat. Ah, indah sekali! Terima kasih, pak dai. Selama ini saya gamang mengenai urusan KAYA ini, tetapi sekarang saya mantap. Saya mau menjadi KAYA GIGIH + HARTA, dan berjuang untuk membuat segenap Kekayaan saya itu membuahkan KEBERKAHAN.
Cheers, Let’s Light Up Indonesia !

1 komentar:

Anonim mengatakan...

mas IRWAN, sahabat saya yang cerdas dan berwawasan tebal..

Lagi tentang, "KaYA harta" jika tidak disertai GIGIH [iman dan moral], maka akan jadi sumber kehancuran total, kata Gandhi.
Ini yang terbanyak di dunia ini, hancur. Semakin kaya, semakin hancur. Tua masuk penjara dan habis itu gak tahu kemana?

Namun, jika disertai iman dan moral nature, maka kekayaannya akan jadi berkah. setuju sekali, mas IRWAN..Amin [Ignatius Irwan].

Let's light up Indonesia dengan kekayaan dan berkah dunia akhirat. Amin.