Rabu, 22 Oktober 2008

TAMAK



Ketika masih kuliah dulu, saya punya seorang teman yang amat doyan makan durian. Saking doyannya, ia sanggup menghabiskan tujuh sampai delapan butir utuh durian (satu butir bisa berisi belasan buah durian, kan) – sendirian! Sesudah itu ia memang sakit perut, tetapi begitu musim durian berikut, porsi makan tersebut berulang, beserta sakit perutnya.
Teman yang satu lagi gemar makan sate kambing. Sekali makan 20 sampai 30 tusuk bukan jumlah yang luar biasa baginya. Minimal dilakoninya dua kali sebulan. Entah kabarnya sekarang, tapi yang jelas beberapa tahun lalu ia terkena stroke ringan dalam usia di bawah 35 tahun !
Menyukai dan menikmati sesuatu bukanlah dosa. Durian, sate kambing, nonton film, belanja sepatu, mengumpulkan guci, atau koleksi mobil. Setiap orang punya kesenangannya masing-masing. Yang repot adalah bila kesenangan tersebut mulai overdosis. Mulai menjadi kecanduan yang menabrak keseimbangan kehidupan. Bisa mengganggu tubuh sendiri, bisa masyarakat sekitar, bisa pula lingkungan alam. Kecenderungan atau ’penyakit’ ini berdampak buruk tidak semata-mata bagi si pengidap, tetapi mempengaruhi hajat hidup orang buannyaaak sekali Dan tampaknya manusia modern jaman sekarang semakin rentan teridap kecenderungan ini. Kecenderungan TAMAK.

Robohnya Lehman Brothers nun jauh di Amerika sana mencerminkan penyakit Tamak yang menjangkiti sekelompok pelaku-pelaku industri keuangan, kemudian merugikan banyak orang, bahkan menghantui orang di seluruh dunia dengan bayang-bayang resesi atau bisa jadi depresi global.
Alkisah, semua berawal dari kebijakan pemerintah Amerika memberi kesempatan bagi penduduknya untuk membeli rumah atau properti dengan kredit murah. Karena murahnya, properti laku keras dan banyak orang ramai-ramai berinvestasi di industri ini. Pelaku industri keuangan memanfaatkan momen ini dengan kreativitasnya mengeluarkan berbagai instrumen investasi – makin lama makin beresiko, subprime, cenderung bodong, junk. Karena sedang booming, pasar tetap marak. Tetapi kemudian pemerintah Amerika terlibat perang tidak jelas di Irak. Butuh banyak dana, dan kredit properti pelan-pelan merangkak naik. Banyak pihak mulai tidak kuat, dan terpaksa melepas investasinya atau default kreditnya. Karena kreativitas pelaku industri keuangan, default terjadi secara bertingkat dan menjadi bola salju kredit macet. Sampai, tentu saja, akan ada yang roboh. Sukar dipercaya, lembaga keuangan seperti Lehman Brothers yang sudah berusia lebih dari 150 tahun itu, yang sangat dipercaya dan menjadi barometer serta ’teladan’ di kalangan industri keuangan. Menjadi incaran target investasi pemodal organisasi maupun individual, pemain kawakan maupun amatir. Akhirnya semua investor tersebut harus menelan pahit karena LB bangkrut terseret krisis subprime mortgage sektor perumahan.. Kalau LB dengan reputasi begitu hebat bisa tersungkur, bagaimana dengan lembaga-lembaga keuangan lain : JP Morgan, Citigroup, UBS, dan lainnya ? Dan kepanikan pun menyebar. Membuat kerugian semakin menjalar kemana-mana.
Apakah para petinggi lembaga-lembaga keuangan tersebut tidak mengetahui bencana dahsyat ini akan tiba? Apa mereka tidak mendeteksi gejala-gejala dini kemacetan tersebut? Bagaimana dengan pejabat dan pengawas keuangan pemerintah Amerika : apakah mereka kebobolan ? Mereka tidak menyadari adanya gelindingan bola salju default kredit tersebut ?
Sama sekali tidak. Mereka semua orang-orang cerdas, berpendidikan tinggi, analis cermat, piawai membaca situasi pasar. Tidak masuk akal bila mereka tidak menemukan indikator dini dari bencana kredit macet ini. Masalahnya bukan pada kemampuan mendeteksi, tetapi kelihatannya lebih pada kepedulian memantau, menjaga dan mengawasi dijalankannya prinsip prudent (keberhati-hatian) dalam praktek-praktek investasi keuangan. Lebih parah lagi, ada indikasi kesengajaan untuk melonggarkan prinsip keberhati-hatian : pada tahun 2000 Kongres Amerika Serikat meniadakan peraturan menyangkut instrumen keuangan derivatif (khususnya CDS, Credit Default Swaps), sehingga perkembangannya menjadi liar dan tak terkendali karena tidak dapat dikontrol sama sekali.

Mengapa semua hal di atas bisa terjadi? Mengapa pihak-pihak terpercaya di industri keuangan menjadi pihak yang justru menabrak prinsip dasar investasi keuangan; dan dengan demikian sebenarnya menyalah-gunakan kepercayaan yang telah diperolehnya ? Dengan amat prihatin, kita bisa menyimpulkan bahwa semua ini adalah ulah ’penyakit’ tamak tadi. Keinginan yang berlebih – dan kelihatannya tidak ada kata puas – untuk mendapatkan profit, profit dan profit. Dengan mengabaikan potensi kerugian yang kemungkinan besar akan dialami banyak orang. Yang penting diri sendiri untung sebanyak-banyaknya. Dan kemudian mengais lagi : instrumen keuangan derivatif apa lagi yang bisa dibuat dan dijual? Bisa dipastikan uang komisi penjualan dan profit akan mengalir lagi.

Kini kerugian dan kerusakan yang amat hebat sudah terjadi. Entah apa bencana ini membuat pelaku keuangan kapok berkreasi derivatif, demikian pula otoritas keuangan kapok untuk membiarkan industri keuangan bergerak leluasa nyaris tanpa batasan apapun.
Masalahnya, paradigma ”Greed is good” dikalangan masyarakat kapitalis masih cukup kuat. Paradigma tandingan ”Corporate Social Responsibility”, tampaknya masih membutuhkan banyak upaya dan kegigihan untuk membuat penyakit tamak tidak berdaya.

Bagaimana dengan kita : sudahkah terserang penyakit yang amat merusak ini ? Ada baiknya periksa ke ahlinya. Meski, jawaban yang jernih dan tajam bisa didapat dari dalam diri kita sendiri. Dari suara hati nurani kita. Asalkan saja kita bersedia mendengarkannya.

Tidak ada komentar: