Sosial dan Bisnis. Apakah perpaduan kedua kata ini mengganggu anda ? Sepertinya ‘tidak kongruen’ ya, kalau kita meminjam istilah Carl Rogers. Sepertinya dua fenomena yang berbeda kelompok. Tapi fenomena tersebut memang perlahan-lahan menyatu. Salah satu pelopornya adalah Muhammad Yunus, si pemenang hadiah Nobel Perdamaian untuk jasanya bertekun memberi kesempatan kepada kelompok miskin harta, agar bisa mengangkat diri dan kesejahteraannya; kemudian bisa hidup mandiri secara martabat.

Grameen Newsletter edisi Februari 2008 mengetengahkan pemikiran lanjutan Pak Yunus untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Seorang berlatar belakang ilmu ekonomi yang solid, dikombinasi dengan passion yang besar untuk kesejahteraan masyarakat, Professor Yunus memang punya bekal yang lengkap untuk meramu Bisnis dan Sosial menjadi satu paket. Ia sudah membuktikan dengan Grameen Bank-nya, beserta turunannya microcredit dan microlending yang mewabah ke berbagai belahan dunia.
Kali ini, dalam bukunya yang masih gres “Creating a world without poverty”, ia mengetengahkan sebuah pendekatan dan bisnis yang persis sama dengan organisasi bisnis yang ‘normal’, dengan perbedaan utama pada dua hal. Pertama, semua keuntungan diinvestasikan kembali ke dalam bisnis, dan kedua: reinvestasi ini digunakan untuk mewujudkan misi perusahaan, yaitu menyediakan produk/jasa yang akan meningkatkan peluang dan kesejahteraan bagi rakyat miskin. Dan ia bukan seorang yang berhenti di konsep dan pemikiran. Saat ini, sudah ada Grameen-Danone - kolaborasi dengan perusahaan makanan terkemuka di dunia, dengan misi meningkatkan gizi anak-anak miskin di Bangladesh. Saat ini perusahaan Grameen-Danone mampu menghasilkan produk yoghurt yang murah, bergizi, dan lezat disukai anak-anak kecil di bangladesh. Semua keuntungan diinvestasikan kembali, dengan sasaran bisa menjangkau lebih banyak anak-anak Bangladesh di daerah-daerah terpencil lainnya.Ada pula Grameen Health Care Services, rumah sakit mata yang akan dibuka bulan Maret 2008 dan diharapkan melayani 50.000 orang per tahunnya. Ada pula Grameen-Jameel Pan Arab Microfinance Limited dan Grameen Capital India, keduanya bergerak di microfinance. Di Indonesia, saya sangat ingin sekali bersentuhan dengan Yayasan Para Sahabat, yang dikabarkan menggunakan pola Grameen Bank dalam melakukan microfinance. Ah, betapa mulianya: menyalurkan enerji dan semangat bisnis untuk menyejahterakan kelompok miskin, sekaligus menjauh dari kerakusan akan perolehan profit setinggi-tingginya.
Pak Yunus punya mimpi: bahwa suatu saat tidak ada lagi kemiskinan (harta) di dunia ini. Sehingga suatu saat ada seorang anak cerdas bertanya: ”Saya menemukan istilah ”Kemiskinan” di kamus. Apa itu ya?”. Maka menjawablah orangtuanya : “Oh, kalau engkau mau tahu, yuk kita ke Museum Kemiskinan.” Kemiskinan hanya ada di museum.
Tampaknya tipping point untuk mewujudkan mimpi tersebut, sudah tidak akan lama lagi.
Cheers, Let’s Light Up Indonesia!

3 komentar:
Artikel yang menggugah Mas Irwan.
Semoga saja di Indonesia ini segera berdiri MUSEUM KEMISKINAN.
Mari kita bersama "menyingsingkan lengan baju" untuk memerangi kemiskinan, BUKAN memerangi orang miskin...seperti yang sering kita lihat di berita, cetak maupun elektronik.
Salam Luar Biasa Prima!
Wuryanano
Huh..memerangi, mengusir, menginjak orang miskin, hanya menambah mental miskin, mental terintimidasi, mental tak berdaya, mental tak punya apa-apa..mari bangun museum kemiskinan dan ketidakdilan di Indonesia tercinta, bagai Bangladesh Jaya.
let's light up Indonesia! setuju!
Ya. Semoga kita bisa seimbang antara keinginan dan harapan dengan tindakan aktual.
Teman-teman, terima kasih buat supportnya.
Keep on fighting!
Posting Komentar