Senin, 27 Oktober 2008

POSITIVISME DAN POLISI



Minta maaf teman-teman dari kepolisian, tapi terus terang saya sering merasa tidak nyaman setiap kali bertemu polisi berseragam. Kewaspadaan langsung meningkat. Degup jantung yang tadinya normal, secara otomatis meningkat ratenya. Kalau bisa tidak berkontak mata, khawatir dipelototi dan diminta minggir. Padahal saya lengkap membawa STNK, dan SIM yang saya kantungi diperoleh secara resmi dengan mengikuti tes teori dan praktek lengkap. Meskipun saya tidak melanggar rambu atau aturan lalu lintas apapun.
Perasaan lain yang suka muncul – sekali lagi minta maaf bapak-bapak polisi, adalah perasaan kesal. Karena seringkali saya alami, bila ada petugas polisi, kondisi jalanan justru jadi terasa lebih macet. Seperti pagi ini. Jam tujuh, seperti biasa saya sudah sampai di Casabalanca dari jalan Sudirman; siap memutar di belakang Hotel Sahid untuk menuju Mega Kuningan. Kalau biasanya masih lancar, kali ini terjadi antrian panjang mobil-mobil yang akan memutar. Tentunya ini tidak biasa, apalagi arus kendaraan di arah balik masih sangat lancar. ”Ah,” keluh saya dalam hati. Masa pagi seperti ini sudah disuguhi macet!. Sambil mobil merangkak perlahan, saya melongok-longok mencoba mencari sumber sumbatan. Dan mata saya tertumbuk pada sosok dua orang polisi serta beberapa motor dan mobil petugas. Langsung mood saya berubah. ”Bener, deh” batin saya. ”Ada polisi malah jadi macet! Apa sih maunya polisi? Metode apalagi yang kali ini digunakan untuk mengatur mobil-mobil yang berbelok?” suara di dalam diri saya nyerocos. Mobil masih bisa maju, meski dengan merangkak setapak demi setapak. Diiringi rasa kesal yang mulai menumpuk. ”Huh! Nggak bener nih!” sambil hati saya berusaha keras menahan umpatan.
Pada saat itulah, saya melihat penyebab sumbatan sesungguhnya : ada belasan tumpukan bal barang berserakan, sedang diangkut bersama-sama ke pinggir jalanan. Dan surprisingly bagi saya, beberapa polisi ikut bahu-membahu meminggirkannya. Dari jauh kelihatan keringat mereka, tapi raut wajahnya terlihat ramah, tidak menampakkan keterpaksaan.
“Oh, ada kecelakaan to …..,” saya langsung merasakan muka saya memerah. “Minta maaf ya pak polisi …….” spontan ungkapan tersebut terucap di batin saya. Saya keliru : kali ini pak polisi justru sedang membantu menghilangkan sumbatan kemacetan.
Teringat kemudian satu hal yang sering saya ajarkan di kelas-kelas pelatihan : biasakanlah bersikap dan berpikir POSITIF. Bahwa kita tidak boleh berprasangka buruk terhadap orang lain. Bahwa kita perlu menghindari pikiran jelek atau negatif tentang orang maupun kondisi yang ada. Membiasakan untuk berpandangan baik tentang orang lain; mengharapkan the best untuk kondisi yang ada. Ternyata saya sendiri kecolongan.
Terima kasih, bapak-bapak polisi di putaran belakang Hotel Sahid. Anda-anda menyadarkan saya untuk menghindari pikiran dan prasangka buruk. Untuk kembali membiasakan diri berpikir dan bersikap positif terhadap orang lain, kondisi, dan kehidupan. Agar hati dan pikiran terbiasa bersih, tenang, dan mantap. Sekali lagi, minta maaf dan banyak terima kasih, bapak-bapak Polisi. Sambil saya titip harapan, semoga pemilik barang tersebut tidak diperas berlebihan; harus membayar akibat kecelakaan dan kemudian kemacetan yang ditimbulkannya ...............


Rabu, 22 Oktober 2008

TAMAK



Ketika masih kuliah dulu, saya punya seorang teman yang amat doyan makan durian. Saking doyannya, ia sanggup menghabiskan tujuh sampai delapan butir utuh durian (satu butir bisa berisi belasan buah durian, kan) – sendirian! Sesudah itu ia memang sakit perut, tetapi begitu musim durian berikut, porsi makan tersebut berulang, beserta sakit perutnya.
Teman yang satu lagi gemar makan sate kambing. Sekali makan 20 sampai 30 tusuk bukan jumlah yang luar biasa baginya. Minimal dilakoninya dua kali sebulan. Entah kabarnya sekarang, tapi yang jelas beberapa tahun lalu ia terkena stroke ringan dalam usia di bawah 35 tahun !
Menyukai dan menikmati sesuatu bukanlah dosa. Durian, sate kambing, nonton film, belanja sepatu, mengumpulkan guci, atau koleksi mobil. Setiap orang punya kesenangannya masing-masing. Yang repot adalah bila kesenangan tersebut mulai overdosis. Mulai menjadi kecanduan yang menabrak keseimbangan kehidupan. Bisa mengganggu tubuh sendiri, bisa masyarakat sekitar, bisa pula lingkungan alam. Kecenderungan atau ’penyakit’ ini berdampak buruk tidak semata-mata bagi si pengidap, tetapi mempengaruhi hajat hidup orang buannyaaak sekali Dan tampaknya manusia modern jaman sekarang semakin rentan teridap kecenderungan ini. Kecenderungan TAMAK.

Robohnya Lehman Brothers nun jauh di Amerika sana mencerminkan penyakit Tamak yang menjangkiti sekelompok pelaku-pelaku industri keuangan, kemudian merugikan banyak orang, bahkan menghantui orang di seluruh dunia dengan bayang-bayang resesi atau bisa jadi depresi global.
Alkisah, semua berawal dari kebijakan pemerintah Amerika memberi kesempatan bagi penduduknya untuk membeli rumah atau properti dengan kredit murah. Karena murahnya, properti laku keras dan banyak orang ramai-ramai berinvestasi di industri ini. Pelaku industri keuangan memanfaatkan momen ini dengan kreativitasnya mengeluarkan berbagai instrumen investasi – makin lama makin beresiko, subprime, cenderung bodong, junk. Karena sedang booming, pasar tetap marak. Tetapi kemudian pemerintah Amerika terlibat perang tidak jelas di Irak. Butuh banyak dana, dan kredit properti pelan-pelan merangkak naik. Banyak pihak mulai tidak kuat, dan terpaksa melepas investasinya atau default kreditnya. Karena kreativitas pelaku industri keuangan, default terjadi secara bertingkat dan menjadi bola salju kredit macet. Sampai, tentu saja, akan ada yang roboh. Sukar dipercaya, lembaga keuangan seperti Lehman Brothers yang sudah berusia lebih dari 150 tahun itu, yang sangat dipercaya dan menjadi barometer serta ’teladan’ di kalangan industri keuangan. Menjadi incaran target investasi pemodal organisasi maupun individual, pemain kawakan maupun amatir. Akhirnya semua investor tersebut harus menelan pahit karena LB bangkrut terseret krisis subprime mortgage sektor perumahan.. Kalau LB dengan reputasi begitu hebat bisa tersungkur, bagaimana dengan lembaga-lembaga keuangan lain : JP Morgan, Citigroup, UBS, dan lainnya ? Dan kepanikan pun menyebar. Membuat kerugian semakin menjalar kemana-mana.
Apakah para petinggi lembaga-lembaga keuangan tersebut tidak mengetahui bencana dahsyat ini akan tiba? Apa mereka tidak mendeteksi gejala-gejala dini kemacetan tersebut? Bagaimana dengan pejabat dan pengawas keuangan pemerintah Amerika : apakah mereka kebobolan ? Mereka tidak menyadari adanya gelindingan bola salju default kredit tersebut ?
Sama sekali tidak. Mereka semua orang-orang cerdas, berpendidikan tinggi, analis cermat, piawai membaca situasi pasar. Tidak masuk akal bila mereka tidak menemukan indikator dini dari bencana kredit macet ini. Masalahnya bukan pada kemampuan mendeteksi, tetapi kelihatannya lebih pada kepedulian memantau, menjaga dan mengawasi dijalankannya prinsip prudent (keberhati-hatian) dalam praktek-praktek investasi keuangan. Lebih parah lagi, ada indikasi kesengajaan untuk melonggarkan prinsip keberhati-hatian : pada tahun 2000 Kongres Amerika Serikat meniadakan peraturan menyangkut instrumen keuangan derivatif (khususnya CDS, Credit Default Swaps), sehingga perkembangannya menjadi liar dan tak terkendali karena tidak dapat dikontrol sama sekali.

Mengapa semua hal di atas bisa terjadi? Mengapa pihak-pihak terpercaya di industri keuangan menjadi pihak yang justru menabrak prinsip dasar investasi keuangan; dan dengan demikian sebenarnya menyalah-gunakan kepercayaan yang telah diperolehnya ? Dengan amat prihatin, kita bisa menyimpulkan bahwa semua ini adalah ulah ’penyakit’ tamak tadi. Keinginan yang berlebih – dan kelihatannya tidak ada kata puas – untuk mendapatkan profit, profit dan profit. Dengan mengabaikan potensi kerugian yang kemungkinan besar akan dialami banyak orang. Yang penting diri sendiri untung sebanyak-banyaknya. Dan kemudian mengais lagi : instrumen keuangan derivatif apa lagi yang bisa dibuat dan dijual? Bisa dipastikan uang komisi penjualan dan profit akan mengalir lagi.

Kini kerugian dan kerusakan yang amat hebat sudah terjadi. Entah apa bencana ini membuat pelaku keuangan kapok berkreasi derivatif, demikian pula otoritas keuangan kapok untuk membiarkan industri keuangan bergerak leluasa nyaris tanpa batasan apapun.
Masalahnya, paradigma ”Greed is good” dikalangan masyarakat kapitalis masih cukup kuat. Paradigma tandingan ”Corporate Social Responsibility”, tampaknya masih membutuhkan banyak upaya dan kegigihan untuk membuat penyakit tamak tidak berdaya.

Bagaimana dengan kita : sudahkah terserang penyakit yang amat merusak ini ? Ada baiknya periksa ke ahlinya. Meski, jawaban yang jernih dan tajam bisa didapat dari dalam diri kita sendiri. Dari suara hati nurani kita. Asalkan saja kita bersedia mendengarkannya.

Sabtu, 16 Februari 2008

JALAN PINTAS

“Saya butuh penawaran cepat nih. Tenggat waktu dari owner sudah mepet,” seru suara di ujung telpon. “Jangan khawatir,” jawab si penerima telpon, “ Ini langsung saya kirim brosur kami beserta penawaran harganya. Anda bisa pilih-pilih sesuai gambar yang anda. Bila order anda masuk sebelum pk 14:00 dan stoknya ada, barangnya besok sudah sampai di tangan anda!”.
Email, chatting, video conference, over-night delivery, on-line transaction. Semua terkait dengan konotasi waktu yang secepat kilat. Instant. Sesuatu yang menjadi ciri jaman sekarang. Jaman modern.
Kecepatan memang baik. Membuat orang bisa mengerjakan lebih banyak hal, dan menghasilkan lebih. Produktif. Kalau di dunia bisnis, memproduksi lebih banyak barang atau jasa. Peluncuran produk baru juga bisa lebih cepat dan lebih banyak. Memberi tambahan profit. Memungkinkan perusahaan tambah besar. Ekspansi. Tambah lagi profit.
Dan perlombaan kecepatan pun menjadi semakin marak. Semua orang, organisasi, berlomba-lomba menciptakan ’rekor kecepatan’ yang baru.
Sayangnya, fenomena instant ini punya efek samping yang serius: orang menjadi cepat kehilangan kesabarannya. Semua harus serba cepat. Bagaimana bila tidak cepat? Ya bisa ketinggalan. Kalah bersaing. Terpuruk. Nomer buncit.Terpinggirkan. Ketidak-cepatan, menjadi sesuatu yang tidak disukai. Cenderung menakutkan. Ketidak-cepatan tidak boleh terjadi, pada aspek kehidupan apapun. Begitu kemudian mindset yang secara tidak sadar tertanam di dalam benak.
Orang-orang yang tidak bisa cepat secara ’sehat’, mulai kelimpungan. Bingung, kehilangan akal. Dan kemudian kehilangan nuraninya. Mulai melirik-lirik jalan pintas. Mulai melanggar aturan. Mulai kehilangan tenggang-rasa pada kepentingan orang lain.
Berhenti mengambil penumpang di tikungan, karena kalau tidak bisa kalah cepat mengumpulkan uang setoran. Menaikkan joki supaya bisa lewat three-in one, tidak telat sampai di kantor. Menggunakan jasa petugas supaya bisa dapat SIM tanpa perlu belajar mengendarai maupun aturan lalu-lintas yang benar (toh di jalan berlaku: siapa yang berani, dia yang benar). Menekan gas saat mendekati zebra-cross, kalau tidak harus menunggu orang menyebrang yang jumlahnya banyak. Mengiming-imingi produk murah sehingga pelanggan banyak datang, tapi stoknya cuma 2 lusin sehingga banyak yang kecele. Menebar uang untuk memastikan jumlah suara memadai untuk jadi pemenang pilkada. Menyontek saat ujian karena toh semua juga menyontek. Bikin acara sadis-seks-lucu, yang penting rating tinggi dan pemasukan tinggi.
Banyak sekali jalan pintas yang ditempuh orang modern, dari anak-anak sampai orang dewasa, kadang-kadang orang renta. Menyedihkan. Kita dipaksa serba-instan. Kita dipaksa meninggalkan proses yang alami. Apa yang bisa diterabas, ya monggo saja. Kita kehilangan ritme alami. Dan pada saat yang sama, dampak ujungnya melukai dan merusak bumi. Dan sebenarnya, merusak diri kita sendiri.
Mungkin kita harus melawan fenomena serba instan. Mungkin kita harus memperlambat banyak hal. Agar kita lebih bisa memperoleh hidup dan nikmat yang lebih autentik. Dan mengurangi proses perusakan lingkungan kita .......

Jumat, 15 Februari 2008

FULLY ENGAGED

Kemarin saya bertemu dengan (sebut saja) pak ‘Amin’ - saya lupa menanyakan namanya. Di sela tugas ke Surabaya, saya bersama seorang teman menyempatkan diri mengunjungi monumen kapal selam di daerah Gubeng. Usia pak ’Amin’ sudah 61 tahun, dan raut ketuaan memang sudah menguat diwajahnya.
Tetapi begitu kami sampai di geladak Kapal Selam buatan Rusia tahun 1952 itu, dengan semangat ia menyambut dan menjabat tangan kami. Dan dengan antusias memulai ceritanya. Bahwa dulu tahun enampuluhan kita (Indonesia) memiliki 12 kapal selam, kini cuma punya dua. Bahwa dulu di barat dan di timur kita punya cukup armada untuk menjaga kedaulatan negara. Kelancarannya menjelaskan tombol, tuas, berbagai panel maupun komponen mesin yang ada, menunjukkan bahwa ia memang pernah bertugas di kapal tersebut selagi baik dia maupun kapal masih berdinas aktif. ”Wah, kondisinya tidak nyaman pak. Puanaas sekali. Tidak ada AC. Tidur juga di sembarang tempat pak”, sambil menunjukkan kondisi ruangan yang memang tidak memungkinkan tidur yang nyaman. Ruang tidur perwira pun tidak jauh berbeda. ”Bahkan kalau ke toilet, harus hati-hati supaya kotorannya tidak menyembur balik,” ungkapnya sedikit tergelak. ”Kalau menembakkan torpedo pak, ya harus hitung-hitung dulu,” sambil menunjukkan seperangkat peralatan yang memang terkesan ribet. ”Angel (sulit) pak, tidak seperti sekarang semua pakai komputer,” lanjutnya lagi. Dan terus mengoceh, dari ruang ke ruang; termasuk mencoba periskop yang menghadap ke Hotel Sahid. Sambil kadang-kadang mendemonstrasikan proses kerja peralatan yang amat banyak itu. Dalam hati saya berpikir, sudah berapa ribu kali ia menjelaskan seluk-beluk kapal selam ini. Kok bisa penuh semangat begini ya. ”Dive, dive, dive!” secara tidak sadar saya menggumam, mengingat adegan-adegan film tentang situasi kritis di kapal selam.

Di dunia organisasi, kini mulai popular apa yang namanya fully engaged employee. Karyawan yang bekerja dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa, mengkontribusikan seluruh dirinya. Bila karyawan mencapai tingkatan ini, waahhh biasanya dia jarang sakit, dia tampil bersemangat, dia tidak mengeluh soal penghasilan yang kecil, dia penuh inisiatif tidak perlu didorong-dorong atau setiap kali diingatkan.
Suatu kondisi yang sangat diinginkan oleh manajemen ya ? Yess. Repotnya, kita sulit sekali menjumpai karyawan dengan tingkatan mental setinggi ini. Yang lebih banyak ada ? ”Cepek dulu dong!”, alias bayarannya berapa, ada lemburan gak, nanti saya dapat apa.
Atau ”Ngapain, yang punya perusahaan bukan; buat apa mati-matian?”. Yang lainnya, ”Ah, boss aja tidak begitu, mosok kita-kita yang cuma cecere musti berkorban ? Cape dehh .....”
Saya tidak tahu apakah pak ’Amin’ menggambarkan seseorang yang fully engaged. Dia juga tidak cerita pernah menjadi prajurit teladan atau semacamnya. Tapi melihat kesungguhannya melakukan pekerjaan (yang pasti sudah dilakukannya ribuan kali), saya angkat topi. ”Dulu kami dilantik dalam posisi kapal ’duduk’ di laut pak, di pasir putih” saya bisa merasakan kebanggaan dalam nada suaranya. ”Sekarang ya, dilantik di darat saja.”. Mungkin upacara seperti itu ya salah satu cara menumbuhkan ’kesungguhan’ dan ’kecintaan’ pada pekerjaan, menumbuhkan kondisi fully engaged. Mungkin juga tipe orangnya. Entahlah. Yang jelas, saya mengucapkan terima kasih padanya yang tulus dari hati. Setelah hampir 45 menit di entertain oleh cerita dan penjelasannya yang penuh semangat di dalam ruangan sempit berukuran panjang bersih tidak sampai 60 meter. Wawasan saya bertambah, tapi terlebih lagi hati saya diperkaya oleh keteladanan pak ’Amin’ menjalankan tugasnya sepenuh hati. Mungkin banyak di antara kita yang perlu belajar bagaimana agar kita bisa lebih sering fully engaged. Demi kenyamanan, kepuasan, dan kebahagiaan kita sendiri dalam menjalani kehidupan dan pekerjaan. Demi kesehatan jiwa kita sendiri.

Rabu, 06 Februari 2008

SOCIAL BUSINESS ?

Sosial dan Bisnis. Apakah perpaduan kedua kata ini mengganggu anda ? Sepertinya ‘tidak kongruen’ ya, kalau kita meminjam istilah Carl Rogers. Sepertinya dua fenomena yang berbeda kelompok. Tapi fenomena tersebut memang perlahan-lahan menyatu. Salah satu pelopornya adalah Muhammad Yunus, si pemenang hadiah Nobel Perdamaian untuk jasanya bertekun memberi kesempatan kepada kelompok miskin harta, agar bisa mengangkat diri dan kesejahteraannya; kemudian bisa hidup mandiri secara martabat.

Grameen Newsletter edisi Februari 2008 mengetengahkan pemikiran lanjutan Pak Yunus untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Seorang berlatar belakang ilmu ekonomi yang solid, dikombinasi dengan passion yang besar untuk kesejahteraan masyarakat, Professor Yunus memang punya bekal yang lengkap untuk meramu Bisnis dan Sosial menjadi satu paket. Ia sudah membuktikan dengan Grameen Bank-nya, beserta turunannya microcredit dan microlending yang mewabah ke berbagai belahan dunia.

Kali ini, dalam bukunya yang masih gres “Creating a world without poverty”, ia mengetengahkan sebuah pendekatan dan bisnis yang persis sama dengan organisasi bisnis yang ‘normal’, dengan perbedaan utama pada dua hal. Pertama, semua keuntungan diinvestasikan kembali ke dalam bisnis, dan kedua: reinvestasi ini digunakan untuk mewujudkan misi perusahaan, yaitu menyediakan produk/jasa yang akan meningkatkan peluang dan kesejahteraan bagi rakyat miskin. Dan ia bukan seorang yang berhenti di konsep dan pemikiran. Saat ini, sudah ada Grameen-Danone - kolaborasi dengan perusahaan makanan terkemuka di dunia, dengan misi meningkatkan gizi anak-anak miskin di Bangladesh. Saat ini perusahaan Grameen-Danone mampu menghasilkan produk yoghurt yang murah, bergizi, dan lezat disukai anak-anak kecil di bangladesh. Semua keuntungan diinvestasikan kembali, dengan sasaran bisa menjangkau lebih banyak anak-anak Bangladesh di daerah-daerah terpencil lainnya.
Ada pula Grameen Health Care Services, rumah sakit mata yang akan dibuka bulan Maret 2008 dan diharapkan melayani 50.000 orang per tahunnya. Ada pula Grameen-Jameel Pan Arab Microfinance Limited dan Grameen Capital India, keduanya bergerak di microfinance. Di Indonesia, saya sangat ingin sekali bersentuhan dengan Yayasan Para Sahabat, yang dikabarkan menggunakan pola Grameen Bank dalam melakukan microfinance. Ah, betapa mulianya: menyalurkan enerji dan semangat bisnis untuk menyejahterakan kelompok miskin, sekaligus menjauh dari kerakusan akan perolehan profit setinggi-tingginya.
Pak Yunus punya mimpi: bahwa suatu saat tidak ada lagi kemiskinan (harta) di dunia ini. Sehingga suatu saat ada seorang anak cerdas bertanya: ”Saya menemukan istilah ”Kemiskinan” di kamus. Apa itu ya?”. Maka menjawablah orangtuanya : “Oh, kalau engkau mau tahu, yuk kita ke Museum Kemiskinan.” Kemiskinan hanya ada di museum.
Tampaknya tipping point untuk mewujudkan mimpi tersebut, sudah tidak akan lama lagi.
Cheers, Let’s Light Up Indonesia!

Selasa, 05 Februari 2008

ORANG KAYA

Apakah anda tergolong Orang Kaya ? Menjawab pertanyaan ini, sebagian besar dari kita secara otomatis ’menghitung’ harta yang kita punyai : uang di dompet, di brankas, deposito, reksa dana, rumah, mobil, dll. Dan kesimpulannya : ya, saya tergolong orang kaya, atau hampir kaya, atau malah kaya raya.
Kaya harta bisa berdampak positif, sehingga menjadi orang yang kaya harta itu baik. Motivator dahsyat Tung Desem dalam buku larisnya ”Financial Revolution”, memotivasi kita agar menjadi kaya secara finansial/harta, karena menurut beliau hal itu baik adanya.
Sebaliknya, terlalu bersemangat mengejar kekayaan harta, bisa membuat orang menimbulkan keburukan. Harta menjadi obsesi dan tujuan akhir dalam kehidupan ini, sehingga aspek dan nilai-nilai lain termasuk kemanusiaan seringkali tersingkirkan demi harta, harta, dan harta. Greed ini saya bahas dalam tulisan ”Powerful but Anti-Social”. Sejalan dengan ini, sahabat dan mentor saya Harry-uncommon mengumandangkan slogan ’hidup bukan untuk kaya’. Karena kaya harta seringkali memunculkan kerentanan manusiawi kita: lupa diri, jumawa, merasa lebih dari orang lain, dan itu tadi, rakus.
So, Kaya itu baik atau buruk ? Bingung juga, ya. Untunglah seorang dai kondang memberi pencerahan kepada saya mengenai hakikat Kaya. Sesuai dengan judul bukunya, ia mendorong semua orang HARUS KAYA. Tetapi pengertian KAYA harus diperluas. Menurutnya, kita harus memiliki 5 kekayaan dasar terlebih dulu, yang secara indah disingkatnya menjadi GIGIH. Kekayaan yang pertama adalah ghirah, atau semangat. Orang bersemangat punya kekayaan yang tidak dimiliki orang loyo. Kekayaan kedua adalah input, berupa pengetahuan, wawasan, ilmu, kompetensi, pengalaman kerja, pengalaman hidup. Kekayaan ketiga adalah Gagasan. Orang dengan inisiatif, ide, kreativitas tentu lebih kaya dibanding orang yang pasif dan menunggu petunjuk bapak. Kekayaan keempat adalah Ibadah, melakukan segala sesuatu dijalan yang diridhoiNya. Dan kekayaan dasar ke lima adalah Hati: keikhlasan, kerendahan hati, kepedulian, mentalitas kelimpahan. Orang Kaya GIGIH, kalau belum Kaya Harta, tinggal menunggu waktu saja. Dan Kaya Harta-nya menjadi berkah. Sebaliknya orang yang sudah Kaya bahkan Kaya Raya, bila miskin GIGIH, hartanya bisa tidak langgeng. Atau terus dihantui ketakutan hartanya berkurang atau hilang, sehingga semakin obsesif untuk mencari dan mengamankan hartanya. Dan kehilangan kesempatan untuk membuat hartanya menjadi berkah. Dan terutama kehilangan kesempatan meraup nikmat dari kekayaan GIGIHnya. Ah, betapa kasihan-nya. Alias, kasian deh loe!
Inti dari pemaparan sang dai adalah : bahwa tolok ukur Kekayaan adalah KEBERKAHAN, yaitu seberapa bermanfaat bagi diri sendiri, orang lain, dunia, akhirat. Ah, indah sekali! Terima kasih, pak dai. Selama ini saya gamang mengenai urusan KAYA ini, tetapi sekarang saya mantap. Saya mau menjadi KAYA GIGIH + HARTA, dan berjuang untuk membuat segenap Kekayaan saya itu membuahkan KEBERKAHAN.
Cheers, Let’s Light Up Indonesia !

Jumat, 01 Februari 2008

POWERFUL BUT ANTI-SOCIAL
(BERKUASA TAPI TIDAK BERADAB)


Betapa powerfulnya Orang Kaya. Apalagi orang kaya yang rakus. “Greed is good”, begitu ucapan mashyur Gordon Gecko, tokoh spekulan keuangan di film legendaries “Wall Street”. Dan berbekal keyakinan akan kebenaran motto tersebut, orang-orang dari kelompok ini merajalela, mengejar tumpukan kekayaan tanpa batas. Meski dalam upaya tersebut, ratusan juta orang bergelimpangan bertambah miskin dan sengsara hidupnya.

Segelintir orang – terutama dimotori George Soros, mendadak menjadi bertambah luar biasa amat sangat kaya di tahun 1997-1998. Kita tentu tidak ingat berapa kali lipat mereka bertambah kaya. Tapi tidak bisa kita lupakan karena ulah spekulasi mereka, begitu banyak orang kebanyakan, yang bekerja keras, banting tulang memeras keringat terkadang darah, bersusah payah memperbaiki kesejahteraan mereka dan keluarganya; mendadak sontak kehilangan pekerjaan, sekaligus mengalami pemiskinan karena mata uangnya negaranya rontok dan tingkat bunga meroket tak terkendali. Dan ironinya, dengan prestasi membuat ratusan juta orang sengsara itu George Soros dan teman-temannya tidak menjadi kriminal buruan aparat hokum internasional. Tindakan spekulasi mereka LEGAL, dan mereka menjadi selebritis yang dikenal di seantero dunia.
Syukurlah, pengharapan positif ke depan disuarakan Patricia Aburdene. Dalam buku tersohornya MEGATRENDS 2010 yang didasarkan pengamatan disokong berbagai data, ia meyakini perubahan trend di dunia bisnis – dunia yang lekat dengan kekayaan harta dan uang – bergerak semakin cepat ke arah Kapitalisme Spiritual. Istilahnya megah, tapi sederhananya mau mengatakan bahwa “Greed is Good” bergeser menjadi “Spiritualism and Socialism is Good”. Sekali lagi, syukurlah.
Tapi karena ini adalah teropong terhadap kecenderungan di masa depan. Kenyataannya, kita masih di masa sekarang; dan di masa sekarang ini, motto “Greed is Good” masih bercokol kuat dan memiliki power yang banyak bedanya dengan era George Soros. Salah satunya adalah masalah “Subprime mortgage” yang merebak di Amerika Serikat. Terus terang saya tidak paham apa yang terjadi dan mekanismenya; apa yang salah. Katanya sih itu termasuk gejala ‘gelembung ekonomi’. Gelembung kan suatu saat akan pecah, katanya. Entahlah. Tapi yang jelas utak-atik di bisnis keuangan tersebut telah membangkrutkan dan atau setidaknya menghadiahkan tumpukan kerugian luarbiasa bagi berbagai lembaga keuangan ternama, termasuk Citicorp dan Goldman Sachs. Dan tentunya sekelompok orang kaya yang mempercayakan keuangannya pada lembaga-lembaga keuangan tersebut.
Sebenarnya, di dalam hati saya bersorak. Orang-orang rakus mendapat ganjarannya. Kalau biasanya mereka mendapat untung banyak, kali ini mereka mendapat rugi banyak. Ah, akhirnya dunia bisa berlaku adil juga. Tapi, adil betulkah ? Sayangnya, tidak betul sepenuhnya. Kelompok penganut GisG di atas ini punya aturan main sendiri, yang melecehkan keadilan ekonomi itu sendiri. Bila mendapat untung banyak, mereka enggan berbagi, sehingga yang kebanjiran rejeki hanya sekelompok kecil orang, kelompok mereka. Tapi kalau terjadi kerugian, mereka sudah memastikan bahwa kerugian itu akan menyeret sebanyak mungkin orang ikut merasakannya. Termasuk orang-orang kebanyakan yang memperjuangkan kesejahteraan melalui cara normal dengan berkeringat dan mencurahkan segenap dirinya demi penghasilan yang memadai.
Itulah yang terjadi sekarang. Meledaknya gelembung Subprime Mortgage selain mengganjar pemain-pemain utamanya, langsung berimbas ke perekonomian. Selain kerugian harta nyata yang dialami kelompok GisG, rentetannya adalah sentimen pasar menjadi negative, muncul kekhawatiran di kalangan pengusaha, orang-orang yang masih punya uang mengerem pengeluarannya sehingga tambah menciutkan pasar, produksi mulai direm, supply berkurang, dan harga-harga meningkat. Gaji direm kenaikannya, sejumlah orang tidak bisa melanjutkan pekerjaannya, ekspansi usaha ditunda, dan seterusnya. Bila kemudian benar-benar terjadi kepanikan, maka sentimen dan kekhawatiran menjadi kenyataan, dan memukul ratusan juta orang-kebanyakan kembali bergelimpangan terampas tingkat kesejahteraan yang dicapainya dengan susah payah.
Itulah bentuk power orang-orang kaya rakus GisG tersebut. Selalu begitu. Untung diambil sendiri atau hanya diberikan kepada kelompok kecilnya. Tapi buntung akan dibagikan kepada sebanyak mungkin orang di dunia ini. Sehingga total jendral net-nya mereka tetap masih lebih kaya dari orang kebanyakan di dunia ini. Menyedihkan ya ?
Pertanyaannya : kapankah kelompok GisG bisa menciut dan tergantikan dominasinya oleh kelompok Spiritualis/Sosialis? Apakah gerakan CSR yang semakin menghebat merupakan tanda-tanda awal pergantian dominasi tersebut ?


Tampaknya kita perlu meyakini apa yang dipopulerkan oleh Malcolm Galdwell (2002) sebagai Tipping point. Di berbagai belahan dunia, individu, kelompok individu, kelompok masyarakat, kelompok karyawan melakukan berbagai aktivitas peduli lingkungan dan manusia lain dan tidak semata-mata menomorkan diri sendiri – suatu gerakan yang pada dasarnya berlawanan dengan ideology GisG. Meski tampaknya belum benar-benar dahsyat, pelan-pelan, setapak demi setapak, dengan akselerasi meningkat, kumpulan upaya ini akan menjadi tipping point: kondisi dimana akumulasi gerakan ini mencapai momentum yang cukup untuk menggulingkan nilai-nilai, kebiasaan, practices yang berlaku. Seperti Tipping point bersejarah yang dikomandani Vaclav Havel untuk menjatuhkan kekuasaan nyaris absolut dari Kelompok Komunis Cekoslovakia. Seperti kejadian bersejarah 21 Mei 1998 dimana salah satu pemimpin besar Indonesia yang semakin otoriter berhasil dilengserkan pada saat dimana dukungan terhadapnya semakin meluas.
Seperti itu pula, akan terjadi tipping point dimana kerakusan menjadi usang, memalukan, menjadi sifat yang dihindari. Harusnya tidak lama lagi. Dan kita bisa mencegah kondisi dimana sekelompok kecil yang powerful karena menguasai aturan main sektor keuangan dunia serta punya jiwa rakus, menjadi ompong tidak punya gigi untuk menjerumuskan banyak orang lain menjadi sengsara. Dimana system ekonomi menjadi lebih sehat. Dimana praktek lembaga keuangan seperti Grameen Bank atau Yayasan Para Sahabat menjadi model dalam berbisnis sektor keuangan. Dan deraan kesengsaraan dan ketidakadilan kepada orang-orang yang bekerja keras, bermoral dan ikhlas mendapat ganjaran kesejahteraan yang seharusnya mereka dapatkan. Saya termasuk dalam barisan orang yang berjuang untuk terjadinya tipping point ini.
LET’S LIGHT UP INDONESIA, AND THE WORLD!