Saya selalu percaya, kepuasan terbesar dalam hidup bisa diperoleh dari pengalaman Aktualisasi Diri – merealisasikan potensi dalam diri secara maksimal. Dan kadar Aktualisasi Diri tidak pernah terlepas dari seberapa jauh kita memberi manfaat bagi sesama manusia. Artinya, makin besar manfaat yang kita berikan kepada sesama manusia lain, bisa menjadi indikator sudah seberapa banyak potensi diri yang berhasil kita realisasikan.
Repotnya, kondisi dunia saat ini sangat menggoda manusia untuk berpikir, berperasaan, dan bertindak keliru tentang aktualisasi diri, kesuksesan dan kepuasan hidup. Manusia didorong untuk menyederhanakan indikator kesuksesan (dan kepuasan) hidup berdasar materi. Kekayaan, karir di perusahaan/bisnis (suatu ’organisme’ yang berorientasi keuntungan/uang/materi), gelar yang dimiliki (hasil investasi sejumlah uang yang jarang murah); adalah beberapa contohnya. Lebih parah lagi, aspek materi tersebut cenderung berorientasi pengumpulan/pemilikan pada diri seseorang – untuk bisa disebut sukses. Dan manusia-manusia yang tidak berorientasi pada materi, dicap sebagai orang sok idealis, ketinggalan jaman, dan tidak realistis.
Untunglah, yang namanya ’Aktualisasi diri’ adalah proses alami yang sudah disiapkan oleh Maha Pencipta kita. Karena itu, mereka-mereka yang sudah saatnya merealisasikan potensinya, memiliki ketangguhan dan bergeming terhadap cap dan tudingan di atas. Mereka dengan kegigihan luar biasa dan energi yang meluap, terus berupaya sampai menghasilkan sesuatu yang spektakuler.
Koran Tempo edisi minggu hari ini, memuat kisah tentang John Wood, salah seorang eksekutif Microsoft yang mengambil keputusan ’kontroversial’ dalam hidupnya : memilih meninggalkan jabatan dan karirnya yang cemerlang di Microsoft, untuk memfokuskan hidupnya full-time pada upaya mendirikan perpustakaan di Nepal. Entah apa reaksi spontan anda mendengar/membaca hal ini. Banyak orang bereaksi : kaget, tidak biasa, menimbulkan pertanyaan ”buat apa seh?”, dan mengelompokkannya menjadi ’orang aneh’. Termasuk tunangannya yang kemudian memutuskan untuk batal menikah dengan John (yang ganteng, gagah, berpendidikan MBA dari Kellogg, dan – tadinya prospektif – berkecukupan)!. Tapi obsesi John Wood bukan sekedar kejenuhan sesaat terhadap kompleksitas dunia bisnis. Awalnya, ia sedang berlibur dari kesibukan kerja di Microsoft dengan memilih tur jalur keledai 21hari di Nepal. Disanalah ia disadarkan oleh seorang pegawai pemprov, yang menyuguhkan langsung di depan matanya sendiri: di satu desa bernama Bahundanda ada sekolah dengan 450 siswa, memiliki ruang perpustakan tanpa sebuah buku pun!. Itulah turning point hidup John : ia memulai ’proyek’ Books for Nepal. Saking asyiknya, muncullah keputusan banting stir itu di tahun 1999. Dan hasilnya tidak sia-sia : gerakannya berkembang menjadi Rooms to Read, dan setelah tujuh tahun telah berhasil membangun 3600 perpustakaan di negara-negara berkembang. Prestasinya ini telah jauh melampaui idolanya, Andrew Carnegie, yang membangun 2000 perpustakaan di Eropa dan Amerika Serikat pada awal abad ke 20. Selain pendirian ribuan perpustakaan, John dan timnya juga menyumbang dan mempublikasikan 3 juta buku, membangun 287 sekolah, dan memberi lebih dari 3400 beasiswa jangka panjang untuk anak-anak perempuan. Kisah John Wood telah dibukukan dengan judul “Leaving Microsoft to change the World” – telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Bentang.
John hanya satu dari sekian banyak pejuang untuk peningkatan kesejahteraan sesama manusia. Dan Indonesia juga tidak kekurangan pejuang seperti John. Hani Sutrisno, contohnya. Pejuang kita ini bukan eksekutif perusahaan, tapi seorang guru SD honorer di salah satu desa di Magelang. Ia penasaran dan prihatin melihat nasib masyarakat desanya yang pas-pasan secara ekonomi. Padahal mereka hidup di dekat salah satu pusat pariwisata dunia. Hani menemukan penyebabnya : mereka tidak bisa berbahasa Inggris, sehingga tak banyak bisa berkomunikasi dengan turis. Maka mulailah upaya ‘membahasa Inggris’kan orang-orang desanya. Membuka kursus bahasa Inggris gratis baik untuk anak-anak maupun orang dewasa. Mudah ? Tentu tidak. Tapi Hani seorang yang gigih. Kini orang-orang desanya sudah banyak yang lebih sejahtera dari penghasilan sebagai pemandu wisata yang fasih bicara Inggris – dalam logat jawa yang kental tentunya. Ia juga sudah memiliki Lembaga Pendidikan Kursus Simple English Course (SPEC), yang telah memiliki cabang lain di Magelang dan bahkan Serpong, Tangerang. Yang tergolong spektakuler : Januari lalu desa Ngargogondo telah dikukuhkan oleh pemerintah sebagai Desa Bahasa karena sebagian besar penduduknya cas-cis-cus berbahasa Inggris. Kisah Hani dimuat dalam Tempo 5 Agustus 2007 serta ditayangkan dalam salah satu episode “Kick Andy” di stasiun Metro TV.
Yang lebih menggembirakan, kisah ‘berbuat untuk sesama’ seperti John Wood atau Hani Sutrisno bertambah banyak setiap waktu. Lebih dari sepuluh tahun lalu saya kepincut dengan buku Heroes after Hours. Isinya menceritakan kisah berbagai orang dari berbagai bangsa di berbagai perusahaan, yang punya dorongan tak tertahan untuk berbuat sesuatu bagi sesama. Mereka belum seberuntung John yang bisa melepaskan pekerjaan dan bergiat sosial full-time, sehingga melakukannya di luar jam kerja – after hours. Tekad dan kerja keras mereka akhirnya membuahkan kebijakan sejumlah perusahaan multi-nasional yang memberikan jatah sejumlah jam kerja tertentu bagi setiap karyawannya untuk kegiatan sosial. Dan gerakan-gerakan sporadis seperti ini secara jangka panjang akhirnya turut mendorong berkembangnya CSR (Corporate Social Responsibility) pada banyak perusahaan. Dan upaya ‘berbuat untuk sesama’ menjadi semakin kreatif. Alex Counts misalnya, CEO Grameen Bank (yang tersohor karena pendirinya yaitu Mohammad Yunus mendapat Nobel tahun lalu), ditantang isterinya untuk mengikuti lomba marathon tahunan. Masalahnya Alex cukup rajin berolahraga lari, selalu bicara mau ikut marathon tapi tidak pernah terealisasi. Isterinya bertaruh, kalau Alex sampai ikut marathon, maka ia akan melipat-tigakan donasi tahunannya kepada 3 organisasi non-profit dimana suaminya menjadi eksekutif. Sambil mengejek : “Ah, dengan insentif seperti itupun suaminya belum tentu berlatih serius untuk lomba marathon,”. Ternyata Alex terpancing – tapi secara kreatif. Ia mengajak orang-orang untuk mensupport upaya latihannya, dengan memberi donasi yang akan disumbangkan bila Alex menyelesaikan maratonnya. Hasilnya ? Alex menyelesaikan marathon dengan catatan waktu 4:35:32; mendapatkan donasi isterinya; serta total donasi dari supporter gerakannya dengan total hampir US $ 10.000 !
Terus terang, hati saya bergetar dan terharu setiap kali membaca kisah perjuangan dan keberhasilan aktivis sosial seperti ini. Dan harapan akan dunia yang lebih baik, setiap kali mendapat topangan tambahan. Dan selanjutnya, saya berharap, semakin banyak orang yang berkarya bagi sesama, dan saling memberi inspirasi bagi rekan seperjuangan untuk menghasilkan lebih banyak karya lagi demi kesejahteraan bersama !
Minggu, 28 Oktober 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

2 komentar:
this article is definitely came from you...it is so you, ha ha ha...starting from simple to complex matters, ranging from family and social to business and strategy issues.
jadi berminat ni gue bikin blog, mana sudah diakui lagi menjadi hari blogger (view days ago?)
keep up the great work Mas!
Saya setuju benar dengan tulisan Anda. Saya juga baca tentang John Wood itu. Great man, leaving his prospective career for the poor. Tentang CSR, ada beberapa yg masih mencurigai itu taktik perusahaan untuk mempromosikan produknya. Tapi secara umum, memang kita perlu lebih banyak orang kayak John Wood atau Pak Sutrisno itu. Salam kenal, kunjungi saya di http://patrisiusdjiwandono.blogspot.com
Posting Komentar