Tantangan kehidupan yang kita hadapi dari tahun ke tahun makin banyak dan beragam. Ada yang terkait dengan kepentingan kita pribadi, banyak juga yang terkait dengan kepentingan bersama termasuk kita di dalamnya. Salah satu contoh nyata adalah kondisi lingkungan, khususnya SAMPAH.
Pelan-pelan, tanpa banyak kita sadari, sampah bertambah dengan kecepatan tidak saja deret hitung, tapi mendekati deret ukur. Sederhananya, tambah banyak dan banyak dan banyak terusss. Berdampakkah kepada kita ? TENTU SAJA. Anda masih ingat waktu Bandung menjadi LAUTAN SAMPAH karena kesulitan membuangnya ? Dan banyak dari kita yang senang belanja di FO-FO di sana menjadi sangat terganggu kenyamanannya? Jangan salah, di Jakarta sendiri kita juga pernah dipusingkan oleh sampah, ketika Bantar Gebang sempat diblok oleh Pemda Bekasi. Sampah menumpuk dan bau busuk menebar dimana-mana, termasuk dihalaman rumah kita, karena petugas sampah juga kesulitan membuangnya.
Entah harus bilang 'syukur' atau sebaliknya 'sayang'nya: masalah tersebut (sementara) teratasi, sehingga kita tidak lagi mengalami gunungan sampah yang mengganggu baik dari segi pemandangan, penciuman, maupun kesehatan.
Sejatinya, masalah gunung sampah ini ibarat gunung es, dimana 'gunung' dibawah terus terbentuk semakin besar dan bisa tiba-tiba menyeruak ke permukaan secara tiba-tiba dengan dampak yang dahsyat. Gejalanya sudah ada : berita-berita di media awal tahun ini mengungkapkan, truk-truk sampah DKI ditangkap di Bekasi, di Tangerang karena berusaha membuang sampah di tempat yang bukan peruntukannya. Dan meski pemerintah DKI terus mengupayakan lahan pembuangan, mereka masih belum mendapatkan area yang benar-benar bisa digunakan, aman dari protes, demo, dan perlawanan masyarakat sekitarnya (Wajar: siapa di antara kita yang mau bertetangga dengan lokasi pembuangan sampah; bahkan berjarak berkilo-kilo meter pun baunya masih menyengat!).
Berdasar data: sampah yang dihasilkan masyarakat Jakarta lebih dari 6000 ton per harinya! Memang masih lebih kecil dari volume lumpur Lapindo; tapi kesamaannya: berproduksi terus dengan kecenderungan meningkat! Jadi, adu cepat antara produksi yang dihasilkan dengan penampungan dan pengolahannya. Sementara ini , produksi lebih unggul dari penampungan - pengolahan, dan ke depan penampungan - pengolahan kelihatannya makin sulit untuk bisa memenangkan 'lomba' - bila tingkat percepatan produksi sampah terus sama seperti sekarang.
Tanpa mengingkari adanya penyumbang SAMPAH 'terorganisir' seperti pabrik, rumah sakit, restoran, dsb; kita termasuk penyumbang SAMPAH sekaligus korban dampak tumpukan sampah. Rasanya sudah selayaknya kita bertanggung jawab dan berkontribusi untuk penanggulangannya. Di bawah ini ajakan dan pilihan kontribusi yang sederhana :
1. Sadari betapa banyaknya produksi sampah kita sebagai individu maupun karyawan.
Makanan dan turunannya menjadi penyumbang sampah terbesar. Bayangkan : sarapan mie atau bubur ayam, cuma 5 atau 6 ribu perak kita kenyang, dengan menyumbang sampah: kantong kresek hitam, foam putih pengganti mangkok, plastik cabe, plastik sumpit, dan sumpitnya sendiri. Belum kenyang, kita makan kue atau gorengan, nyumbang lagi minimal kresek lagi. Terus minum green tea, satu botol plastik kemasannya. Jadi, satu individu untuk makan pagi saja sudah menyumbang 7 item sampah. Nanti makan siang, ngemil sore, makan malam, berulang; katakanlah nambah 10 item sampah. Di Jakarta ada berapa jumlah individu ? Berapa jadinya ya total kolektif sampah sisa makan kita ?
Penyumbang lain adalah belanja kita. Nyaris semua belanjaan kita berpackaging : baju, ATK, mainan anak, buku, majalah, VCD & DVD (baik bajakan maupun asli!), tas wanita, minyak wangi, kacamata, kartu pulsa isi ulang, dll, dll. Apalagi kebutuhan sehari-hari: shampoo, sabun, kopi/teh sachet, gula, deodorant, sambal botol, penganan kacang atom, dll, dll. Packaging paling banyak adalah plastik, karena tampak rapi, bersih, dan menarik (dan buat produsen/penjual: makin lama makin murah biayanya!). Selain packaging kemasan produk, kita pasti dapat kresek untuk menjinjingnya - bisa kresek hitam kumal sampai kresek keren dengan cetakan nama tokonya. Ada yang suka menyimpan kemasan dan kresek2 itu? Sebagian besar dari kita langsung menjejalnya ke tempat sampah begitu mengkonsumsi barangnya. Biar tukang sampah yang menangani, begitu kita pikir.
Kalau di kantor, tidak kurang banyak juga yang berpotensi menjadi sampah. ATK, kertas (kebanyakan salah print atau salah copy), kemasan printer baru atau tinta isi-ulangnya, kemasan kertas A4 atau folio, surat dan brosur penawaran, pernik-pernik program promosi, dan banyak lagi.
Totalkan semua produksi sampah di atas. Tak heran juga ya, produksi kolektif sampah kita bisa ribuan ton - PER HARI!
2. Peduli tentang dampak produksi sampah.
Karena dampak tidak langsung, kita sering tidak terlalu aware akan dampak buruk produksi sampah tsb KEPADA KITA SENDIRI. Dari uraian di atas, saya berharap kita sudah bisa paham dan sadar dampak yang kita bisa berikan kepada kita baik secara individu, keluarga maupun sebagai masyarakat bersama. Dan lebih peduli serta lebih sadar setiap kali membuang sesuatu ke kotak sampah. Minimal ada sedikit rasa salah atau gak enak gitu lho!
3. Kurangi produksi sampah.
Semua upaya pengurangan produksi sampah sebenarnya simpel, untuk setiap individu yang peduli dampak sampah. Misalnya :
a. sedapat mungkin mengembalikan kresek yang diberi setiap kita membeli sesuatu, bila masih bisa kita jinjing tanpa kresek. Gabungkan bila kita belanja beberapa item, supaya konsumsinya satu kresek. (Kita suka berpikir: nanti kreseknya kita simpan dan akan kita gunakan lagi. Kenyataannya : lebih banyak pikir/omong kosong, krn begitu banyak dan mudahnya kresek kita terima/dapatkan, sehingga jarang orang menyimpannya - terutama kresek yang hitam dan agak berbau dan memang murah itu! Yang juga paling banyak kita jumpai di tumpukan sampah!)
b. kembalikan tradisi lama, yaitu membawa tas permanen/semi permanen untuk belanjaan kita. Biasanya kita gengsi kali ya, karena akan dianggap kuno, bahkan norak oleh orang-orang modern di sekitar kita. Tapi ingat, betapa mulianya perbuatan ini, he he he … (Saya jadi terpikir, laku nggak ya kalau ada tas belanja semi permanen yang bisa memberi citra keren bagi pembawanya, dengan berlabel: AKU PENCINTA LINGKUNGAN!)
c. meminimalkan buangan kemasan dari makanan kita. Sedikit ekstrimnya : kalau mau jajan bubur ayam, ya makan di tempat abangnya saja, supaya tidak perlu stereo form + plastik cabe + plastik krupuk + kresek!
4. Pilah dan atur pembuangan sampah.
Kalau kurangi sampah sudah optimal, Lakukan sedikit ektra usaha, dengan mengelompokkan sampah dan tampungannya di tempat kita. Kemasan-kemasan karton produk susu, kopi dan consumables lainnya, pisahkan dari sampah basah sisa-sisa makanan kita. Demikian juga plastik, kresek, dan sejenisnya. Sampah kering bisa kita berikan pada pemulung. Atau jangan-jangan bisa kita manfaatkan secara kreatif ?!?.
Yang jelas, mengurangi akumulasi sampah yang dikumpulkan petugas sampah - sekaligus membantu pencaharian pemulung. Kembali, betapa mulianya …!
5. Masih banyak lainnya, tapi pada intinya adalah 4 langkah dasar di atas. Yuk, teman-teman, kita lebih peduli untuk lingkungan kita bersama, dengan mengurangi produksi dan mengelola sampah kita!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar