KESUNGGUHAN DAN KEPEDULIAN TULUS
Resep mensukseskan Program 100 hari pertama Gubernur Baru
Resep mensukseskan Program 100 hari pertama Gubernur Baru
Salah satu prinsip indah yang saya peroleh dari mengikuti kursus pelatihan Kepemimpinan yang dipandu Kubik Leadership, adalah fenomena personal EPOS yang dikontraskan dengan ENEG. Bahwa dalam diri kita bisa tercipta Enerji Positif (rasa nyaman, niat baik, ekspektasi positif) yang kemudian bisa kita ‘lontarkan’ ke lingkungan dan menghasilkan enerji dan hasil positif pula. Kondisi berlawanan adalah Enerji Negatif (rasa pesimis, kemrungsung , prasangka buruk, ekspektasi negatif) yang juga bisa kita pancarkan ke lingkungan.
Menariknya adalah bahwa kita sebenarnya bisa memilih : mau merasakan dan memancarkan EPOS atau ENEG. Berlawanan dengan keyakinan sebagian orang yang merasa ‘bete’ “gara-gara dia sih”; atau “untung boss saya positive thinking sehingga saya ikut termotivasi”. Kita punya kendali, dan sampai tahap tertentu, kita juga bisa punya pengaruh terhadap output di lingkungan.
EPOS lah yang langsung teringat ketika membaca program 100 hari Gubernur Baru DKI di media cetak hari ini. Terus terang saya bukan great fan dari bung Foke. Bahkan cenderung termasuk kelompok yang skeptis terhadap beliau, khususnya menyangkut: seberapa jauh bisa membuat perubahan terhadap pengelolaan ibukota. Bagaimana tidak. Fakta sebagai anggota manajemen pemprov yang lama, dan didukung semua partai besar; bagi saya justru mencuatkan pesimisme karena baik pemprov edisi lama maupun partai-partai besar tidak memperlihatkan kemampuan menghasilkan perubahan yang signifikan. Dan ibukota butuh perubahan seperti itu.
Terima kasih kepada Kubik, saya kemudian mencoba switch ke EPOS menanggapi program 100 hari tersebut. Dengan frame EPOS ini, maka pencanangan program tersebut ternyata sounds promising. Mencakup hajat hidup orang banyak. Termasuk transportasi, lingkungan yang lebih nyaman, banyak lagi. Dan harapan bisa menjadi lebih besar, karena bung Foke berlatar belakang scholar; sehingga menjadi tantangan beliau untuk menerapkan berbagai ilmu yang telah dikumpulkannya. Belum lagi dukungan kumpulan ahli yang tergabung dalam timnya.
Yang juga membuat saya salut adalah undangan beliau kepada masyarakat, untuk memberi masukan agar program-program tersebut sukses dan dapat dirasakan manfaatnya bagi masyarakat luas. Terkait dengan itu, perkenankanlah saya dalam tulisan ini menyampaikan beberapa pandangan dan usulan kepada pak Gubernur baru. Khususnya dalam posisi saya sebagai ’pejuang’ kondisi hidup yang lebih baik.
Saya lahir dan besar di Jakarta. Sepanjang saya sekolah, kuliah, kemudian bekerja dan bermukim mandiri, saya kenyang mencicipi dan menjalani dampak berbagai kebijakan pemprov. Dan saya harus jujur untuk memberi feedback sebagai warga dan konsumen pemprov, bahwa kebanyakan pemimpin lebih ahli untuk menyampaikan visi dibanding mewujudkannya secara nyata di lapangan. Yang lebih mengkhawatirkan, pemaparan visi sudah dianggap sebagai prestasi di atas rata-rata. Padahal visi baru sepertiga jalan dari proses kepemimpinan yang efektif. Kata Rhenald Khasali di bukunya ”Change” yang mengalir sangat nikmat, real leader akan mulai dari melihat (dan mengkomunikasikan – penulis) perubahan, bergerak, dan menuntaskannya. Dan pada setiap tahapan tersebut, pemimpin seyogyanya melakukan siklus PDCA (Plan-Do-Check-Action) sehingga hasil setiap tahapan bisa optimal. Menetapkan standar-standar proses dan hasil, membuat perencanaan seksama, dan memastikan pelaksanaannya diikuti dan ditepati oleh pelaksana maupun pengawasnya di lapangan. Larry Bossidy dan Ram Charan (dalam karya mereka EXECUTION: The discipline of doing the right things) mengistilahkannya : secara rigorous. Tidak seadanya. Upaya maksimal. Mati-matian. Peduli. Demi kepentingan masyarakat.
Sayangnya, sebagai konsumen saya belum dapat memberi angka biru untuk kualitas eksekusi pemimpin di lingkungan ibukota. Proyek transportasi busway, misalnya. Tidak ada yang bisa membantah bahwa visi transportasi busway itu sangat baik dan bermanfaat. Tetapi pelaksanaannya di lapangan ? Keteteran, kalau tidak bisa dibilang mengarah ke seadanya.
Yang paling mengkhawatirkan adalah mindset bahwa untuk pembangunannya HARUS mengakibatkan kemacetan parah; masyarakat HARUS berkorban; bahwa proses penyelesaiannya PASTI butuh waktu TIDAK SINGKAT. Repotnya, bahkan mindset ini menjangkiti Leadernya. Padahal kita tahu, mindset berpengaruh pada perilaku orang.
Kita sudah lihat di lapangan. Kontraktor upgrade jalur bw menuju blok m misalnya, tidak menunjukkan kepedulian berapa lama pembatas beton besar ditaruh sehingga mobil hanya bisa lewat satu jalur saja. Pengguna jalan HARUS bersabar sampai si kontraktor mengangkatnya – entah kapan.
Cuma satu contohnya ? Ah, kalau seorang pemimpin benar-benar peduli, dengan cepat ia akan dapat melihat kekurangan di lapangan. Yang terjadi karena pelaksana di lapangan tidak peduli. Dan pengawas pekerjaan di lapangan sama menyedihkannya tidak peduli untuk melakukan pekerjaan seoptimal mungkin. Saya bukan ahli tehnik sipil atau transportasi. Tapi saya yakin ilmu tersebut menyediakan banyak alternatif untuk MEMINIMALKAN dampak kemacetan karena pembangunan busway atau under-pass atau apapun. ASAL ADA KEPEDULIAN TULUS DAN KESUNGGUHAN. Tidak juga dengan solusi jalan pintas, sehingga misalnya pagi dan sore hari jalur busway tertentu dipersilahkan oleh baik polantas maupun petugas DLLAJR untuk dipakai mobil pribadi. Sehingga busway-nya tersendat dan penumpangnya dirugikan.
Menariknya adalah bahwa kita sebenarnya bisa memilih : mau merasakan dan memancarkan EPOS atau ENEG. Berlawanan dengan keyakinan sebagian orang yang merasa ‘bete’ “gara-gara dia sih”; atau “untung boss saya positive thinking sehingga saya ikut termotivasi”. Kita punya kendali, dan sampai tahap tertentu, kita juga bisa punya pengaruh terhadap output di lingkungan.
EPOS lah yang langsung teringat ketika membaca program 100 hari Gubernur Baru DKI di media cetak hari ini. Terus terang saya bukan great fan dari bung Foke. Bahkan cenderung termasuk kelompok yang skeptis terhadap beliau, khususnya menyangkut: seberapa jauh bisa membuat perubahan terhadap pengelolaan ibukota. Bagaimana tidak. Fakta sebagai anggota manajemen pemprov yang lama, dan didukung semua partai besar; bagi saya justru mencuatkan pesimisme karena baik pemprov edisi lama maupun partai-partai besar tidak memperlihatkan kemampuan menghasilkan perubahan yang signifikan. Dan ibukota butuh perubahan seperti itu.
Terima kasih kepada Kubik, saya kemudian mencoba switch ke EPOS menanggapi program 100 hari tersebut. Dengan frame EPOS ini, maka pencanangan program tersebut ternyata sounds promising. Mencakup hajat hidup orang banyak. Termasuk transportasi, lingkungan yang lebih nyaman, banyak lagi. Dan harapan bisa menjadi lebih besar, karena bung Foke berlatar belakang scholar; sehingga menjadi tantangan beliau untuk menerapkan berbagai ilmu yang telah dikumpulkannya. Belum lagi dukungan kumpulan ahli yang tergabung dalam timnya.
Yang juga membuat saya salut adalah undangan beliau kepada masyarakat, untuk memberi masukan agar program-program tersebut sukses dan dapat dirasakan manfaatnya bagi masyarakat luas. Terkait dengan itu, perkenankanlah saya dalam tulisan ini menyampaikan beberapa pandangan dan usulan kepada pak Gubernur baru. Khususnya dalam posisi saya sebagai ’pejuang’ kondisi hidup yang lebih baik.
Saya lahir dan besar di Jakarta. Sepanjang saya sekolah, kuliah, kemudian bekerja dan bermukim mandiri, saya kenyang mencicipi dan menjalani dampak berbagai kebijakan pemprov. Dan saya harus jujur untuk memberi feedback sebagai warga dan konsumen pemprov, bahwa kebanyakan pemimpin lebih ahli untuk menyampaikan visi dibanding mewujudkannya secara nyata di lapangan. Yang lebih mengkhawatirkan, pemaparan visi sudah dianggap sebagai prestasi di atas rata-rata. Padahal visi baru sepertiga jalan dari proses kepemimpinan yang efektif. Kata Rhenald Khasali di bukunya ”Change” yang mengalir sangat nikmat, real leader akan mulai dari melihat (dan mengkomunikasikan – penulis) perubahan, bergerak, dan menuntaskannya. Dan pada setiap tahapan tersebut, pemimpin seyogyanya melakukan siklus PDCA (Plan-Do-Check-Action) sehingga hasil setiap tahapan bisa optimal. Menetapkan standar-standar proses dan hasil, membuat perencanaan seksama, dan memastikan pelaksanaannya diikuti dan ditepati oleh pelaksana maupun pengawasnya di lapangan. Larry Bossidy dan Ram Charan (dalam karya mereka EXECUTION: The discipline of doing the right things) mengistilahkannya : secara rigorous. Tidak seadanya. Upaya maksimal. Mati-matian. Peduli. Demi kepentingan masyarakat.
Sayangnya, sebagai konsumen saya belum dapat memberi angka biru untuk kualitas eksekusi pemimpin di lingkungan ibukota. Proyek transportasi busway, misalnya. Tidak ada yang bisa membantah bahwa visi transportasi busway itu sangat baik dan bermanfaat. Tetapi pelaksanaannya di lapangan ? Keteteran, kalau tidak bisa dibilang mengarah ke seadanya.
Yang paling mengkhawatirkan adalah mindset bahwa untuk pembangunannya HARUS mengakibatkan kemacetan parah; masyarakat HARUS berkorban; bahwa proses penyelesaiannya PASTI butuh waktu TIDAK SINGKAT. Repotnya, bahkan mindset ini menjangkiti Leadernya. Padahal kita tahu, mindset berpengaruh pada perilaku orang.
Kita sudah lihat di lapangan. Kontraktor upgrade jalur bw menuju blok m misalnya, tidak menunjukkan kepedulian berapa lama pembatas beton besar ditaruh sehingga mobil hanya bisa lewat satu jalur saja. Pengguna jalan HARUS bersabar sampai si kontraktor mengangkatnya – entah kapan.
Cuma satu contohnya ? Ah, kalau seorang pemimpin benar-benar peduli, dengan cepat ia akan dapat melihat kekurangan di lapangan. Yang terjadi karena pelaksana di lapangan tidak peduli. Dan pengawas pekerjaan di lapangan sama menyedihkannya tidak peduli untuk melakukan pekerjaan seoptimal mungkin. Saya bukan ahli tehnik sipil atau transportasi. Tapi saya yakin ilmu tersebut menyediakan banyak alternatif untuk MEMINIMALKAN dampak kemacetan karena pembangunan busway atau under-pass atau apapun. ASAL ADA KEPEDULIAN TULUS DAN KESUNGGUHAN. Tidak juga dengan solusi jalan pintas, sehingga misalnya pagi dan sore hari jalur busway tertentu dipersilahkan oleh baik polantas maupun petugas DLLAJR untuk dipakai mobil pribadi. Sehingga busway-nya tersendat dan penumpangnya dirugikan.

Genuine Care dan Rigorousness. Mulai dari DKI 1 terus ke jajaran di bawahnya. Sampai Pelaksana di lapangan.
Saya sangat berharap bung Foke bisa menunjukkan kualitas care dan rigorousnessnya itu. Bisa membuat perubahan nyata. Dalam 100 hari pertama pemerintahannya. Demi kredibilitas bung Foke dan timnya. Membuktikan kepada kubu skeptis tentang kemampuan dan kesungguhannya. Dan yang terutama sebenarnya, demi masyarakat DKI dan sekitarnya yang berhak atas kualitas kehidupan yang lebih baik.

2 komentar:
Pak Fokenya boleh punya visi dan kapabilitas, tapi kalau sudah turun ke jajarannya kenapa kok jadi melemah ya? Apalagi kalau sudah sampai pelaksanaannya. Devil is in the details, said Robbie William. Kalau mau benar-benar berubah, yang berubah juga harus dari semua lini pemerintahan ya? Well, that's my humble opinion. Please check out my ideas, too, at http://patrisiusdjiwandono.blogspot.com
Have a nice day! Keep rolling, man!
Terima kasih komentarnya, bung Patrisius. I can't agree more. Memang kebanyakan pemimpin kita hanya bisa jadi figur, tidak bisa make it happen. Kalau istilahnya Rhenald Khasali, pemimpin yang efektif itu menjalankan siklus 3 proses kepemimpinan secara lengkap: antisipasi, bergerak, dan menuntaskan. Kelihatannya banyak pemimpin lemah di yang terakhir, begitu bergerak merasa sudah berhasil.
Semoga kalau kita jadi pemimpin tidak seperti itu ya. Cheers,
Posting Komentar