Minta maaf teman-teman dari kepolisian, tapi terus terang saya sering merasa tidak nyaman setiap kali bertemu polisi berseragam. Kewaspadaan langsung meningkat. Degup jantung yang tadinya normal, secara otomatis meningkat ratenya. Kalau bisa tidak berkontak mata, khawatir dipelototi dan diminta minggir. Padahal saya lengkap membawa STNK, dan SIM yang saya kantungi diperoleh secara resmi dengan mengikuti tes teori dan praktek lengkap. Meskipun saya tidak melanggar rambu atau aturan lalu lintas apapun.
Perasaan lain yang suka muncul – sekali lagi minta maaf bapak-bapak polisi, adalah perasaan kesal. Karena seringkali saya alami, bila ada petugas polisi, kondisi jalanan justru jadi terasa lebih macet. Seperti pagi ini. Jam tujuh, seperti biasa saya sudah sampai di Casabalanca dari jalan Sudirman; siap memutar di belakang Hotel Sahid untuk menuju Mega Kuningan. Kalau biasanya masih lancar, kali ini terjadi antrian panjang mobil-mobil yang akan memutar. Tentunya ini tidak biasa, apalagi arus kendaraan di arah balik masih sangat lancar. ”Ah,” keluh saya dalam hati. Masa pagi seperti ini sudah disuguhi macet!. Sambil mobil merangkak perlahan, saya melongok-longok mencoba mencari sumber sumbatan. Dan mata saya tertumbuk pada sosok dua orang polisi serta beberapa motor dan mobil petugas. Langsung mood saya berubah. ”Bener, deh” batin saya. ”Ada polisi malah jadi macet! Apa sih maunya polisi? Metode apalagi yang kali ini digunakan untuk mengatur mobil-mobil yang berbelok?” suara di dalam diri saya nyerocos. Mobil masih bisa maju, meski dengan merangkak setapak demi setapak. Diiringi rasa kesal yang mulai menumpuk. ”Huh! Nggak bener nih!” sambil hati saya berusaha keras menahan umpatan.
Pada saat itulah, saya melihat penyebab sumbatan sesungguhnya : ada belasan tumpukan bal barang berserakan, sedang diangkut bersama-sama ke pinggir jalanan. Dan surprisingly bagi saya, beberapa polisi ikut bahu-membahu meminggirkannya. Dari jauh kelihatan keringat mereka, tapi raut wajahnya terlihat ramah, tidak menampakkan keterpaksaan.
“Oh, ada kecelakaan to …..,” saya langsung merasakan muka saya memerah. “Minta maaf ya pak polisi …….” spontan ungkapan tersebut terucap di batin saya. Saya keliru : kali ini pak polisi justru sedang membantu menghilangkan sumbatan kemacetan.
Teringat kemudian satu hal yang sering saya ajarkan di kelas-kelas pelatihan : biasakanlah bersikap dan berpikir POSITIF. Bahwa kita tidak boleh berprasangka buruk terhadap orang lain. Bahwa kita perlu menghindari pikiran jelek atau negatif tentang orang maupun kondisi yang ada. Membiasakan untuk berpandangan baik tentang orang lain; mengharapkan the best untuk kondisi yang ada. Ternyata saya sendiri kecolongan.
Terima kasih, bapak-bapak polisi di putaran belakang Hotel Sahid. Anda-anda menyadarkan saya untuk menghindari pikiran dan prasangka buruk. Untuk kembali membiasakan diri berpikir dan bersikap positif terhadap orang lain, kondisi, dan kehidupan. Agar hati dan pikiran terbiasa bersih, tenang, dan mantap. Sekali lagi, minta maaf dan banyak terima kasih, bapak-bapak Polisi. Sambil saya titip harapan, semoga pemilik barang tersebut tidak diperas berlebihan; harus membayar akibat kecelakaan dan kemudian kemacetan yang ditimbulkannya ...............
Perasaan lain yang suka muncul – sekali lagi minta maaf bapak-bapak polisi, adalah perasaan kesal. Karena seringkali saya alami, bila ada petugas polisi, kondisi jalanan justru jadi terasa lebih macet. Seperti pagi ini. Jam tujuh, seperti biasa saya sudah sampai di Casabalanca dari jalan Sudirman; siap memutar di belakang Hotel Sahid untuk menuju Mega Kuningan. Kalau biasanya masih lancar, kali ini terjadi antrian panjang mobil-mobil yang akan memutar. Tentunya ini tidak biasa, apalagi arus kendaraan di arah balik masih sangat lancar. ”Ah,” keluh saya dalam hati. Masa pagi seperti ini sudah disuguhi macet!. Sambil mobil merangkak perlahan, saya melongok-longok mencoba mencari sumber sumbatan. Dan mata saya tertumbuk pada sosok dua orang polisi serta beberapa motor dan mobil petugas. Langsung mood saya berubah. ”Bener, deh” batin saya. ”Ada polisi malah jadi macet! Apa sih maunya polisi? Metode apalagi yang kali ini digunakan untuk mengatur mobil-mobil yang berbelok?” suara di dalam diri saya nyerocos. Mobil masih bisa maju, meski dengan merangkak setapak demi setapak. Diiringi rasa kesal yang mulai menumpuk. ”Huh! Nggak bener nih!” sambil hati saya berusaha keras menahan umpatan.
Pada saat itulah, saya melihat penyebab sumbatan sesungguhnya : ada belasan tumpukan bal barang berserakan, sedang diangkut bersama-sama ke pinggir jalanan. Dan surprisingly bagi saya, beberapa polisi ikut bahu-membahu meminggirkannya. Dari jauh kelihatan keringat mereka, tapi raut wajahnya terlihat ramah, tidak menampakkan keterpaksaan.
“Oh, ada kecelakaan to …..,” saya langsung merasakan muka saya memerah. “Minta maaf ya pak polisi …….” spontan ungkapan tersebut terucap di batin saya. Saya keliru : kali ini pak polisi justru sedang membantu menghilangkan sumbatan kemacetan.
Teringat kemudian satu hal yang sering saya ajarkan di kelas-kelas pelatihan : biasakanlah bersikap dan berpikir POSITIF. Bahwa kita tidak boleh berprasangka buruk terhadap orang lain. Bahwa kita perlu menghindari pikiran jelek atau negatif tentang orang maupun kondisi yang ada. Membiasakan untuk berpandangan baik tentang orang lain; mengharapkan the best untuk kondisi yang ada. Ternyata saya sendiri kecolongan.
Terima kasih, bapak-bapak polisi di putaran belakang Hotel Sahid. Anda-anda menyadarkan saya untuk menghindari pikiran dan prasangka buruk. Untuk kembali membiasakan diri berpikir dan bersikap positif terhadap orang lain, kondisi, dan kehidupan. Agar hati dan pikiran terbiasa bersih, tenang, dan mantap. Sekali lagi, minta maaf dan banyak terima kasih, bapak-bapak Polisi. Sambil saya titip harapan, semoga pemilik barang tersebut tidak diperas berlebihan; harus membayar akibat kecelakaan dan kemudian kemacetan yang ditimbulkannya ...............




