Senin, 27 Oktober 2008

POSITIVISME DAN POLISI



Minta maaf teman-teman dari kepolisian, tapi terus terang saya sering merasa tidak nyaman setiap kali bertemu polisi berseragam. Kewaspadaan langsung meningkat. Degup jantung yang tadinya normal, secara otomatis meningkat ratenya. Kalau bisa tidak berkontak mata, khawatir dipelototi dan diminta minggir. Padahal saya lengkap membawa STNK, dan SIM yang saya kantungi diperoleh secara resmi dengan mengikuti tes teori dan praktek lengkap. Meskipun saya tidak melanggar rambu atau aturan lalu lintas apapun.
Perasaan lain yang suka muncul – sekali lagi minta maaf bapak-bapak polisi, adalah perasaan kesal. Karena seringkali saya alami, bila ada petugas polisi, kondisi jalanan justru jadi terasa lebih macet. Seperti pagi ini. Jam tujuh, seperti biasa saya sudah sampai di Casabalanca dari jalan Sudirman; siap memutar di belakang Hotel Sahid untuk menuju Mega Kuningan. Kalau biasanya masih lancar, kali ini terjadi antrian panjang mobil-mobil yang akan memutar. Tentunya ini tidak biasa, apalagi arus kendaraan di arah balik masih sangat lancar. ”Ah,” keluh saya dalam hati. Masa pagi seperti ini sudah disuguhi macet!. Sambil mobil merangkak perlahan, saya melongok-longok mencoba mencari sumber sumbatan. Dan mata saya tertumbuk pada sosok dua orang polisi serta beberapa motor dan mobil petugas. Langsung mood saya berubah. ”Bener, deh” batin saya. ”Ada polisi malah jadi macet! Apa sih maunya polisi? Metode apalagi yang kali ini digunakan untuk mengatur mobil-mobil yang berbelok?” suara di dalam diri saya nyerocos. Mobil masih bisa maju, meski dengan merangkak setapak demi setapak. Diiringi rasa kesal yang mulai menumpuk. ”Huh! Nggak bener nih!” sambil hati saya berusaha keras menahan umpatan.
Pada saat itulah, saya melihat penyebab sumbatan sesungguhnya : ada belasan tumpukan bal barang berserakan, sedang diangkut bersama-sama ke pinggir jalanan. Dan surprisingly bagi saya, beberapa polisi ikut bahu-membahu meminggirkannya. Dari jauh kelihatan keringat mereka, tapi raut wajahnya terlihat ramah, tidak menampakkan keterpaksaan.
“Oh, ada kecelakaan to …..,” saya langsung merasakan muka saya memerah. “Minta maaf ya pak polisi …….” spontan ungkapan tersebut terucap di batin saya. Saya keliru : kali ini pak polisi justru sedang membantu menghilangkan sumbatan kemacetan.
Teringat kemudian satu hal yang sering saya ajarkan di kelas-kelas pelatihan : biasakanlah bersikap dan berpikir POSITIF. Bahwa kita tidak boleh berprasangka buruk terhadap orang lain. Bahwa kita perlu menghindari pikiran jelek atau negatif tentang orang maupun kondisi yang ada. Membiasakan untuk berpandangan baik tentang orang lain; mengharapkan the best untuk kondisi yang ada. Ternyata saya sendiri kecolongan.
Terima kasih, bapak-bapak polisi di putaran belakang Hotel Sahid. Anda-anda menyadarkan saya untuk menghindari pikiran dan prasangka buruk. Untuk kembali membiasakan diri berpikir dan bersikap positif terhadap orang lain, kondisi, dan kehidupan. Agar hati dan pikiran terbiasa bersih, tenang, dan mantap. Sekali lagi, minta maaf dan banyak terima kasih, bapak-bapak Polisi. Sambil saya titip harapan, semoga pemilik barang tersebut tidak diperas berlebihan; harus membayar akibat kecelakaan dan kemudian kemacetan yang ditimbulkannya ...............


Rabu, 22 Oktober 2008

TAMAK



Ketika masih kuliah dulu, saya punya seorang teman yang amat doyan makan durian. Saking doyannya, ia sanggup menghabiskan tujuh sampai delapan butir utuh durian (satu butir bisa berisi belasan buah durian, kan) – sendirian! Sesudah itu ia memang sakit perut, tetapi begitu musim durian berikut, porsi makan tersebut berulang, beserta sakit perutnya.
Teman yang satu lagi gemar makan sate kambing. Sekali makan 20 sampai 30 tusuk bukan jumlah yang luar biasa baginya. Minimal dilakoninya dua kali sebulan. Entah kabarnya sekarang, tapi yang jelas beberapa tahun lalu ia terkena stroke ringan dalam usia di bawah 35 tahun !
Menyukai dan menikmati sesuatu bukanlah dosa. Durian, sate kambing, nonton film, belanja sepatu, mengumpulkan guci, atau koleksi mobil. Setiap orang punya kesenangannya masing-masing. Yang repot adalah bila kesenangan tersebut mulai overdosis. Mulai menjadi kecanduan yang menabrak keseimbangan kehidupan. Bisa mengganggu tubuh sendiri, bisa masyarakat sekitar, bisa pula lingkungan alam. Kecenderungan atau ’penyakit’ ini berdampak buruk tidak semata-mata bagi si pengidap, tetapi mempengaruhi hajat hidup orang buannyaaak sekali Dan tampaknya manusia modern jaman sekarang semakin rentan teridap kecenderungan ini. Kecenderungan TAMAK.

Robohnya Lehman Brothers nun jauh di Amerika sana mencerminkan penyakit Tamak yang menjangkiti sekelompok pelaku-pelaku industri keuangan, kemudian merugikan banyak orang, bahkan menghantui orang di seluruh dunia dengan bayang-bayang resesi atau bisa jadi depresi global.
Alkisah, semua berawal dari kebijakan pemerintah Amerika memberi kesempatan bagi penduduknya untuk membeli rumah atau properti dengan kredit murah. Karena murahnya, properti laku keras dan banyak orang ramai-ramai berinvestasi di industri ini. Pelaku industri keuangan memanfaatkan momen ini dengan kreativitasnya mengeluarkan berbagai instrumen investasi – makin lama makin beresiko, subprime, cenderung bodong, junk. Karena sedang booming, pasar tetap marak. Tetapi kemudian pemerintah Amerika terlibat perang tidak jelas di Irak. Butuh banyak dana, dan kredit properti pelan-pelan merangkak naik. Banyak pihak mulai tidak kuat, dan terpaksa melepas investasinya atau default kreditnya. Karena kreativitas pelaku industri keuangan, default terjadi secara bertingkat dan menjadi bola salju kredit macet. Sampai, tentu saja, akan ada yang roboh. Sukar dipercaya, lembaga keuangan seperti Lehman Brothers yang sudah berusia lebih dari 150 tahun itu, yang sangat dipercaya dan menjadi barometer serta ’teladan’ di kalangan industri keuangan. Menjadi incaran target investasi pemodal organisasi maupun individual, pemain kawakan maupun amatir. Akhirnya semua investor tersebut harus menelan pahit karena LB bangkrut terseret krisis subprime mortgage sektor perumahan.. Kalau LB dengan reputasi begitu hebat bisa tersungkur, bagaimana dengan lembaga-lembaga keuangan lain : JP Morgan, Citigroup, UBS, dan lainnya ? Dan kepanikan pun menyebar. Membuat kerugian semakin menjalar kemana-mana.
Apakah para petinggi lembaga-lembaga keuangan tersebut tidak mengetahui bencana dahsyat ini akan tiba? Apa mereka tidak mendeteksi gejala-gejala dini kemacetan tersebut? Bagaimana dengan pejabat dan pengawas keuangan pemerintah Amerika : apakah mereka kebobolan ? Mereka tidak menyadari adanya gelindingan bola salju default kredit tersebut ?
Sama sekali tidak. Mereka semua orang-orang cerdas, berpendidikan tinggi, analis cermat, piawai membaca situasi pasar. Tidak masuk akal bila mereka tidak menemukan indikator dini dari bencana kredit macet ini. Masalahnya bukan pada kemampuan mendeteksi, tetapi kelihatannya lebih pada kepedulian memantau, menjaga dan mengawasi dijalankannya prinsip prudent (keberhati-hatian) dalam praktek-praktek investasi keuangan. Lebih parah lagi, ada indikasi kesengajaan untuk melonggarkan prinsip keberhati-hatian : pada tahun 2000 Kongres Amerika Serikat meniadakan peraturan menyangkut instrumen keuangan derivatif (khususnya CDS, Credit Default Swaps), sehingga perkembangannya menjadi liar dan tak terkendali karena tidak dapat dikontrol sama sekali.

Mengapa semua hal di atas bisa terjadi? Mengapa pihak-pihak terpercaya di industri keuangan menjadi pihak yang justru menabrak prinsip dasar investasi keuangan; dan dengan demikian sebenarnya menyalah-gunakan kepercayaan yang telah diperolehnya ? Dengan amat prihatin, kita bisa menyimpulkan bahwa semua ini adalah ulah ’penyakit’ tamak tadi. Keinginan yang berlebih – dan kelihatannya tidak ada kata puas – untuk mendapatkan profit, profit dan profit. Dengan mengabaikan potensi kerugian yang kemungkinan besar akan dialami banyak orang. Yang penting diri sendiri untung sebanyak-banyaknya. Dan kemudian mengais lagi : instrumen keuangan derivatif apa lagi yang bisa dibuat dan dijual? Bisa dipastikan uang komisi penjualan dan profit akan mengalir lagi.

Kini kerugian dan kerusakan yang amat hebat sudah terjadi. Entah apa bencana ini membuat pelaku keuangan kapok berkreasi derivatif, demikian pula otoritas keuangan kapok untuk membiarkan industri keuangan bergerak leluasa nyaris tanpa batasan apapun.
Masalahnya, paradigma ”Greed is good” dikalangan masyarakat kapitalis masih cukup kuat. Paradigma tandingan ”Corporate Social Responsibility”, tampaknya masih membutuhkan banyak upaya dan kegigihan untuk membuat penyakit tamak tidak berdaya.

Bagaimana dengan kita : sudahkah terserang penyakit yang amat merusak ini ? Ada baiknya periksa ke ahlinya. Meski, jawaban yang jernih dan tajam bisa didapat dari dalam diri kita sendiri. Dari suara hati nurani kita. Asalkan saja kita bersedia mendengarkannya.

Sabtu, 16 Februari 2008

JALAN PINTAS

“Saya butuh penawaran cepat nih. Tenggat waktu dari owner sudah mepet,” seru suara di ujung telpon. “Jangan khawatir,” jawab si penerima telpon, “ Ini langsung saya kirim brosur kami beserta penawaran harganya. Anda bisa pilih-pilih sesuai gambar yang anda. Bila order anda masuk sebelum pk 14:00 dan stoknya ada, barangnya besok sudah sampai di tangan anda!”.
Email, chatting, video conference, over-night delivery, on-line transaction. Semua terkait dengan konotasi waktu yang secepat kilat. Instant. Sesuatu yang menjadi ciri jaman sekarang. Jaman modern.
Kecepatan memang baik. Membuat orang bisa mengerjakan lebih banyak hal, dan menghasilkan lebih. Produktif. Kalau di dunia bisnis, memproduksi lebih banyak barang atau jasa. Peluncuran produk baru juga bisa lebih cepat dan lebih banyak. Memberi tambahan profit. Memungkinkan perusahaan tambah besar. Ekspansi. Tambah lagi profit.
Dan perlombaan kecepatan pun menjadi semakin marak. Semua orang, organisasi, berlomba-lomba menciptakan ’rekor kecepatan’ yang baru.
Sayangnya, fenomena instant ini punya efek samping yang serius: orang menjadi cepat kehilangan kesabarannya. Semua harus serba cepat. Bagaimana bila tidak cepat? Ya bisa ketinggalan. Kalah bersaing. Terpuruk. Nomer buncit.Terpinggirkan. Ketidak-cepatan, menjadi sesuatu yang tidak disukai. Cenderung menakutkan. Ketidak-cepatan tidak boleh terjadi, pada aspek kehidupan apapun. Begitu kemudian mindset yang secara tidak sadar tertanam di dalam benak.
Orang-orang yang tidak bisa cepat secara ’sehat’, mulai kelimpungan. Bingung, kehilangan akal. Dan kemudian kehilangan nuraninya. Mulai melirik-lirik jalan pintas. Mulai melanggar aturan. Mulai kehilangan tenggang-rasa pada kepentingan orang lain.
Berhenti mengambil penumpang di tikungan, karena kalau tidak bisa kalah cepat mengumpulkan uang setoran. Menaikkan joki supaya bisa lewat three-in one, tidak telat sampai di kantor. Menggunakan jasa petugas supaya bisa dapat SIM tanpa perlu belajar mengendarai maupun aturan lalu-lintas yang benar (toh di jalan berlaku: siapa yang berani, dia yang benar). Menekan gas saat mendekati zebra-cross, kalau tidak harus menunggu orang menyebrang yang jumlahnya banyak. Mengiming-imingi produk murah sehingga pelanggan banyak datang, tapi stoknya cuma 2 lusin sehingga banyak yang kecele. Menebar uang untuk memastikan jumlah suara memadai untuk jadi pemenang pilkada. Menyontek saat ujian karena toh semua juga menyontek. Bikin acara sadis-seks-lucu, yang penting rating tinggi dan pemasukan tinggi.
Banyak sekali jalan pintas yang ditempuh orang modern, dari anak-anak sampai orang dewasa, kadang-kadang orang renta. Menyedihkan. Kita dipaksa serba-instan. Kita dipaksa meninggalkan proses yang alami. Apa yang bisa diterabas, ya monggo saja. Kita kehilangan ritme alami. Dan pada saat yang sama, dampak ujungnya melukai dan merusak bumi. Dan sebenarnya, merusak diri kita sendiri.
Mungkin kita harus melawan fenomena serba instan. Mungkin kita harus memperlambat banyak hal. Agar kita lebih bisa memperoleh hidup dan nikmat yang lebih autentik. Dan mengurangi proses perusakan lingkungan kita .......