Saya selalu percaya, kepuasan terbesar dalam hidup bisa diperoleh dari pengalaman Aktualisasi Diri – merealisasikan potensi dalam diri secara maksimal. Dan kadar Aktualisasi Diri tidak pernah terlepas dari seberapa jauh kita memberi manfaat bagi sesama manusia. Artinya, makin besar manfaat yang kita berikan kepada sesama manusia lain, bisa menjadi indikator sudah seberapa banyak potensi diri yang berhasil kita realisasikan.
Repotnya, kondisi dunia saat ini sangat menggoda manusia untuk berpikir, berperasaan, dan bertindak keliru tentang aktualisasi diri, kesuksesan dan kepuasan hidup. Manusia didorong untuk menyederhanakan indikator kesuksesan (dan kepuasan) hidup berdasar materi. Kekayaan, karir di perusahaan/bisnis (suatu ’organisme’ yang berorientasi keuntungan/uang/materi), gelar yang dimiliki (hasil investasi sejumlah uang yang jarang murah); adalah beberapa contohnya. Lebih parah lagi, aspek materi tersebut cenderung berorientasi pengumpulan/pemilikan pada diri seseorang – untuk bisa disebut sukses. Dan manusia-manusia yang tidak berorientasi pada materi, dicap sebagai orang sok idealis, ketinggalan jaman, dan tidak realistis.
Untunglah, yang namanya ’Aktualisasi diri’ adalah proses alami yang sudah disiapkan oleh Maha Pencipta kita. Karena itu, mereka-mereka yang sudah saatnya merealisasikan potensinya, memiliki ketangguhan dan bergeming terhadap cap dan tudingan di atas. Mereka dengan kegigihan luar biasa dan energi yang meluap, terus berupaya sampai menghasilkan sesuatu yang spektakuler.
Koran Tempo edisi minggu hari ini, memuat kisah tentang John Wood, salah seorang eksekutif Microsoft yang mengambil keputusan ’kontroversial’ dalam hidupnya : memilih meninggalkan jabatan dan karirnya yang cemerlang di Microsoft, untuk memfokuskan hidupnya full-time pada upaya mendirikan perpustakaan di Nepal. Entah apa reaksi spontan anda mendengar/membaca hal ini. Banyak orang bereaksi : kaget, tidak biasa, menimbulkan pertanyaan ”buat apa seh?”, dan mengelompokkannya menjadi ’orang aneh’. Termasuk tunangannya yang kemudian memutuskan untuk batal menikah dengan John (yang ganteng, gagah, berpendidikan MBA dari Kellogg, dan – tadinya prospektif – berkecukupan)!. Tapi obsesi John Wood bukan sekedar kejenuhan sesaat terhadap kompleksitas dunia bisnis. Awalnya, ia sedang berlibur dari kesibukan kerja di Microsoft dengan memilih tur jalur keledai 21hari di Nepal. Disanalah ia disadarkan oleh seorang pegawai pemprov, yang menyuguhkan langsung di depan matanya sendiri: di satu desa bernama Bahundanda ada sekolah dengan 450 siswa, memiliki ruang perpustakan tanpa sebuah buku pun!. Itulah turning point hidup John : ia memulai ’proyek’ Books for Nepal. Saking asyiknya, muncullah keputusan banting stir itu di tahun 1999. Dan hasilnya tidak sia-sia : gerakannya berkembang menjadi Rooms to Read, dan setelah tujuh tahun telah berhasil membangun 3600 perpustakaan di negara-negara berkembang. Prestasinya ini telah jauh melampaui idolanya, Andrew Carnegie, yang membangun 2000 perpustakaan di Eropa dan Amerika Serikat pada awal abad ke 20. Selain pendirian ribuan perpustakaan, John dan timnya juga menyumbang dan mempublikasikan 3 juta buku, membangun 287 sekolah, dan memberi lebih dari 3400 beasiswa jangka panjang untuk anak-anak perempuan. Kisah John Wood telah dibukukan dengan judul “Leaving Microsoft to change the World” – telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Bentang.
John hanya satu dari sekian banyak pejuang untuk peningkatan kesejahteraan sesama manusia. Dan Indonesia juga tidak kekurangan pejuang seperti John. Hani Sutrisno, contohnya. Pejuang kita ini bukan eksekutif perusahaan, tapi seorang guru SD honorer di salah satu desa di Magelang. Ia penasaran dan prihatin melihat nasib masyarakat desanya yang pas-pasan secara ekonomi. Padahal mereka hidup di dekat salah satu pusat pariwisata dunia. Hani menemukan penyebabnya : mereka tidak bisa berbahasa Inggris, sehingga tak banyak bisa berkomunikasi dengan turis. Maka mulailah upaya ‘membahasa Inggris’kan orang-orang desanya. Membuka kursus bahasa Inggris gratis baik untuk anak-anak maupun orang dewasa. Mudah ? Tentu tidak. Tapi Hani seorang yang gigih. Kini orang-orang desanya sudah banyak yang lebih sejahtera dari penghasilan sebagai pemandu wisata yang fasih bicara Inggris – dalam logat jawa yang kental tentunya. Ia juga sudah memiliki Lembaga Pendidikan Kursus Simple English Course (SPEC), yang telah memiliki cabang lain di Magelang dan bahkan Serpong, Tangerang. Yang tergolong spektakuler : Januari lalu desa Ngargogondo telah dikukuhkan oleh pemerintah sebagai Desa Bahasa karena sebagian besar penduduknya cas-cis-cus berbahasa Inggris. Kisah Hani dimuat dalam Tempo 5 Agustus 2007 serta ditayangkan dalam salah satu episode “Kick Andy” di stasiun Metro TV.
Yang lebih menggembirakan, kisah ‘berbuat untuk sesama’ seperti John Wood atau Hani Sutrisno bertambah banyak setiap waktu. Lebih dari sepuluh tahun lalu saya kepincut dengan buku Heroes after Hours. Isinya menceritakan kisah berbagai orang dari berbagai bangsa di berbagai perusahaan, yang punya dorongan tak tertahan untuk berbuat sesuatu bagi sesama. Mereka belum seberuntung John yang bisa melepaskan pekerjaan dan bergiat sosial full-time, sehingga melakukannya di luar jam kerja – after hours. Tekad dan kerja keras mereka akhirnya membuahkan kebijakan sejumlah perusahaan multi-nasional yang memberikan jatah sejumlah jam kerja tertentu bagi setiap karyawannya untuk kegiatan sosial. Dan gerakan-gerakan sporadis seperti ini secara jangka panjang akhirnya turut mendorong berkembangnya CSR (Corporate Social Responsibility) pada banyak perusahaan. Dan upaya ‘berbuat untuk sesama’ menjadi semakin kreatif. Alex Counts misalnya, CEO Grameen Bank (yang tersohor karena pendirinya yaitu Mohammad Yunus mendapat Nobel tahun lalu), ditantang isterinya untuk mengikuti lomba marathon tahunan. Masalahnya Alex cukup rajin berolahraga lari, selalu bicara mau ikut marathon tapi tidak pernah terealisasi. Isterinya bertaruh, kalau Alex sampai ikut marathon, maka ia akan melipat-tigakan donasi tahunannya kepada 3 organisasi non-profit dimana suaminya menjadi eksekutif. Sambil mengejek : “Ah, dengan insentif seperti itupun suaminya belum tentu berlatih serius untuk lomba marathon,”. Ternyata Alex terpancing – tapi secara kreatif. Ia mengajak orang-orang untuk mensupport upaya latihannya, dengan memberi donasi yang akan disumbangkan bila Alex menyelesaikan maratonnya. Hasilnya ? Alex menyelesaikan marathon dengan catatan waktu 4:35:32; mendapatkan donasi isterinya; serta total donasi dari supporter gerakannya dengan total hampir US $ 10.000 !
Terus terang, hati saya bergetar dan terharu setiap kali membaca kisah perjuangan dan keberhasilan aktivis sosial seperti ini. Dan harapan akan dunia yang lebih baik, setiap kali mendapat topangan tambahan. Dan selanjutnya, saya berharap, semakin banyak orang yang berkarya bagi sesama, dan saling memberi inspirasi bagi rekan seperjuangan untuk menghasilkan lebih banyak karya lagi demi kesejahteraan bersama !
Minggu, 28 Oktober 2007
KESUNGGUHAN DAN KEPEDULIAN TULUS
Resep mensukseskan Program 100 hari pertama Gubernur Baru
Resep mensukseskan Program 100 hari pertama Gubernur Baru
Salah satu prinsip indah yang saya peroleh dari mengikuti kursus pelatihan Kepemimpinan yang dipandu Kubik Leadership, adalah fenomena personal EPOS yang dikontraskan dengan ENEG. Bahwa dalam diri kita bisa tercipta Enerji Positif (rasa nyaman, niat baik, ekspektasi positif) yang kemudian bisa kita ‘lontarkan’ ke lingkungan dan menghasilkan enerji dan hasil positif pula. Kondisi berlawanan adalah Enerji Negatif (rasa pesimis, kemrungsung , prasangka buruk, ekspektasi negatif) yang juga bisa kita pancarkan ke lingkungan.
Menariknya adalah bahwa kita sebenarnya bisa memilih : mau merasakan dan memancarkan EPOS atau ENEG. Berlawanan dengan keyakinan sebagian orang yang merasa ‘bete’ “gara-gara dia sih”; atau “untung boss saya positive thinking sehingga saya ikut termotivasi”. Kita punya kendali, dan sampai tahap tertentu, kita juga bisa punya pengaruh terhadap output di lingkungan.
EPOS lah yang langsung teringat ketika membaca program 100 hari Gubernur Baru DKI di media cetak hari ini. Terus terang saya bukan great fan dari bung Foke. Bahkan cenderung termasuk kelompok yang skeptis terhadap beliau, khususnya menyangkut: seberapa jauh bisa membuat perubahan terhadap pengelolaan ibukota. Bagaimana tidak. Fakta sebagai anggota manajemen pemprov yang lama, dan didukung semua partai besar; bagi saya justru mencuatkan pesimisme karena baik pemprov edisi lama maupun partai-partai besar tidak memperlihatkan kemampuan menghasilkan perubahan yang signifikan. Dan ibukota butuh perubahan seperti itu.
Terima kasih kepada Kubik, saya kemudian mencoba switch ke EPOS menanggapi program 100 hari tersebut. Dengan frame EPOS ini, maka pencanangan program tersebut ternyata sounds promising. Mencakup hajat hidup orang banyak. Termasuk transportasi, lingkungan yang lebih nyaman, banyak lagi. Dan harapan bisa menjadi lebih besar, karena bung Foke berlatar belakang scholar; sehingga menjadi tantangan beliau untuk menerapkan berbagai ilmu yang telah dikumpulkannya. Belum lagi dukungan kumpulan ahli yang tergabung dalam timnya.
Yang juga membuat saya salut adalah undangan beliau kepada masyarakat, untuk memberi masukan agar program-program tersebut sukses dan dapat dirasakan manfaatnya bagi masyarakat luas. Terkait dengan itu, perkenankanlah saya dalam tulisan ini menyampaikan beberapa pandangan dan usulan kepada pak Gubernur baru. Khususnya dalam posisi saya sebagai ’pejuang’ kondisi hidup yang lebih baik.
Saya lahir dan besar di Jakarta. Sepanjang saya sekolah, kuliah, kemudian bekerja dan bermukim mandiri, saya kenyang mencicipi dan menjalani dampak berbagai kebijakan pemprov. Dan saya harus jujur untuk memberi feedback sebagai warga dan konsumen pemprov, bahwa kebanyakan pemimpin lebih ahli untuk menyampaikan visi dibanding mewujudkannya secara nyata di lapangan. Yang lebih mengkhawatirkan, pemaparan visi sudah dianggap sebagai prestasi di atas rata-rata. Padahal visi baru sepertiga jalan dari proses kepemimpinan yang efektif. Kata Rhenald Khasali di bukunya ”Change” yang mengalir sangat nikmat, real leader akan mulai dari melihat (dan mengkomunikasikan – penulis) perubahan, bergerak, dan menuntaskannya. Dan pada setiap tahapan tersebut, pemimpin seyogyanya melakukan siklus PDCA (Plan-Do-Check-Action) sehingga hasil setiap tahapan bisa optimal. Menetapkan standar-standar proses dan hasil, membuat perencanaan seksama, dan memastikan pelaksanaannya diikuti dan ditepati oleh pelaksana maupun pengawasnya di lapangan. Larry Bossidy dan Ram Charan (dalam karya mereka EXECUTION: The discipline of doing the right things) mengistilahkannya : secara rigorous. Tidak seadanya. Upaya maksimal. Mati-matian. Peduli. Demi kepentingan masyarakat.
Sayangnya, sebagai konsumen saya belum dapat memberi angka biru untuk kualitas eksekusi pemimpin di lingkungan ibukota. Proyek transportasi busway, misalnya. Tidak ada yang bisa membantah bahwa visi transportasi busway itu sangat baik dan bermanfaat. Tetapi pelaksanaannya di lapangan ? Keteteran, kalau tidak bisa dibilang mengarah ke seadanya.
Yang paling mengkhawatirkan adalah mindset bahwa untuk pembangunannya HARUS mengakibatkan kemacetan parah; masyarakat HARUS berkorban; bahwa proses penyelesaiannya PASTI butuh waktu TIDAK SINGKAT. Repotnya, bahkan mindset ini menjangkiti Leadernya. Padahal kita tahu, mindset berpengaruh pada perilaku orang.
Kita sudah lihat di lapangan. Kontraktor upgrade jalur bw menuju blok m misalnya, tidak menunjukkan kepedulian berapa lama pembatas beton besar ditaruh sehingga mobil hanya bisa lewat satu jalur saja. Pengguna jalan HARUS bersabar sampai si kontraktor mengangkatnya – entah kapan.
Cuma satu contohnya ? Ah, kalau seorang pemimpin benar-benar peduli, dengan cepat ia akan dapat melihat kekurangan di lapangan. Yang terjadi karena pelaksana di lapangan tidak peduli. Dan pengawas pekerjaan di lapangan sama menyedihkannya tidak peduli untuk melakukan pekerjaan seoptimal mungkin. Saya bukan ahli tehnik sipil atau transportasi. Tapi saya yakin ilmu tersebut menyediakan banyak alternatif untuk MEMINIMALKAN dampak kemacetan karena pembangunan busway atau under-pass atau apapun. ASAL ADA KEPEDULIAN TULUS DAN KESUNGGUHAN. Tidak juga dengan solusi jalan pintas, sehingga misalnya pagi dan sore hari jalur busway tertentu dipersilahkan oleh baik polantas maupun petugas DLLAJR untuk dipakai mobil pribadi. Sehingga busway-nya tersendat dan penumpangnya dirugikan.
Menariknya adalah bahwa kita sebenarnya bisa memilih : mau merasakan dan memancarkan EPOS atau ENEG. Berlawanan dengan keyakinan sebagian orang yang merasa ‘bete’ “gara-gara dia sih”; atau “untung boss saya positive thinking sehingga saya ikut termotivasi”. Kita punya kendali, dan sampai tahap tertentu, kita juga bisa punya pengaruh terhadap output di lingkungan.
EPOS lah yang langsung teringat ketika membaca program 100 hari Gubernur Baru DKI di media cetak hari ini. Terus terang saya bukan great fan dari bung Foke. Bahkan cenderung termasuk kelompok yang skeptis terhadap beliau, khususnya menyangkut: seberapa jauh bisa membuat perubahan terhadap pengelolaan ibukota. Bagaimana tidak. Fakta sebagai anggota manajemen pemprov yang lama, dan didukung semua partai besar; bagi saya justru mencuatkan pesimisme karena baik pemprov edisi lama maupun partai-partai besar tidak memperlihatkan kemampuan menghasilkan perubahan yang signifikan. Dan ibukota butuh perubahan seperti itu.
Terima kasih kepada Kubik, saya kemudian mencoba switch ke EPOS menanggapi program 100 hari tersebut. Dengan frame EPOS ini, maka pencanangan program tersebut ternyata sounds promising. Mencakup hajat hidup orang banyak. Termasuk transportasi, lingkungan yang lebih nyaman, banyak lagi. Dan harapan bisa menjadi lebih besar, karena bung Foke berlatar belakang scholar; sehingga menjadi tantangan beliau untuk menerapkan berbagai ilmu yang telah dikumpulkannya. Belum lagi dukungan kumpulan ahli yang tergabung dalam timnya.
Yang juga membuat saya salut adalah undangan beliau kepada masyarakat, untuk memberi masukan agar program-program tersebut sukses dan dapat dirasakan manfaatnya bagi masyarakat luas. Terkait dengan itu, perkenankanlah saya dalam tulisan ini menyampaikan beberapa pandangan dan usulan kepada pak Gubernur baru. Khususnya dalam posisi saya sebagai ’pejuang’ kondisi hidup yang lebih baik.
Saya lahir dan besar di Jakarta. Sepanjang saya sekolah, kuliah, kemudian bekerja dan bermukim mandiri, saya kenyang mencicipi dan menjalani dampak berbagai kebijakan pemprov. Dan saya harus jujur untuk memberi feedback sebagai warga dan konsumen pemprov, bahwa kebanyakan pemimpin lebih ahli untuk menyampaikan visi dibanding mewujudkannya secara nyata di lapangan. Yang lebih mengkhawatirkan, pemaparan visi sudah dianggap sebagai prestasi di atas rata-rata. Padahal visi baru sepertiga jalan dari proses kepemimpinan yang efektif. Kata Rhenald Khasali di bukunya ”Change” yang mengalir sangat nikmat, real leader akan mulai dari melihat (dan mengkomunikasikan – penulis) perubahan, bergerak, dan menuntaskannya. Dan pada setiap tahapan tersebut, pemimpin seyogyanya melakukan siklus PDCA (Plan-Do-Check-Action) sehingga hasil setiap tahapan bisa optimal. Menetapkan standar-standar proses dan hasil, membuat perencanaan seksama, dan memastikan pelaksanaannya diikuti dan ditepati oleh pelaksana maupun pengawasnya di lapangan. Larry Bossidy dan Ram Charan (dalam karya mereka EXECUTION: The discipline of doing the right things) mengistilahkannya : secara rigorous. Tidak seadanya. Upaya maksimal. Mati-matian. Peduli. Demi kepentingan masyarakat.
Sayangnya, sebagai konsumen saya belum dapat memberi angka biru untuk kualitas eksekusi pemimpin di lingkungan ibukota. Proyek transportasi busway, misalnya. Tidak ada yang bisa membantah bahwa visi transportasi busway itu sangat baik dan bermanfaat. Tetapi pelaksanaannya di lapangan ? Keteteran, kalau tidak bisa dibilang mengarah ke seadanya.
Yang paling mengkhawatirkan adalah mindset bahwa untuk pembangunannya HARUS mengakibatkan kemacetan parah; masyarakat HARUS berkorban; bahwa proses penyelesaiannya PASTI butuh waktu TIDAK SINGKAT. Repotnya, bahkan mindset ini menjangkiti Leadernya. Padahal kita tahu, mindset berpengaruh pada perilaku orang.
Kita sudah lihat di lapangan. Kontraktor upgrade jalur bw menuju blok m misalnya, tidak menunjukkan kepedulian berapa lama pembatas beton besar ditaruh sehingga mobil hanya bisa lewat satu jalur saja. Pengguna jalan HARUS bersabar sampai si kontraktor mengangkatnya – entah kapan.
Cuma satu contohnya ? Ah, kalau seorang pemimpin benar-benar peduli, dengan cepat ia akan dapat melihat kekurangan di lapangan. Yang terjadi karena pelaksana di lapangan tidak peduli. Dan pengawas pekerjaan di lapangan sama menyedihkannya tidak peduli untuk melakukan pekerjaan seoptimal mungkin. Saya bukan ahli tehnik sipil atau transportasi. Tapi saya yakin ilmu tersebut menyediakan banyak alternatif untuk MEMINIMALKAN dampak kemacetan karena pembangunan busway atau under-pass atau apapun. ASAL ADA KEPEDULIAN TULUS DAN KESUNGGUHAN. Tidak juga dengan solusi jalan pintas, sehingga misalnya pagi dan sore hari jalur busway tertentu dipersilahkan oleh baik polantas maupun petugas DLLAJR untuk dipakai mobil pribadi. Sehingga busway-nya tersendat dan penumpangnya dirugikan.

Genuine Care dan Rigorousness. Mulai dari DKI 1 terus ke jajaran di bawahnya. Sampai Pelaksana di lapangan.
Saya sangat berharap bung Foke bisa menunjukkan kualitas care dan rigorousnessnya itu. Bisa membuat perubahan nyata. Dalam 100 hari pertama pemerintahannya. Demi kredibilitas bung Foke dan timnya. Membuktikan kepada kubu skeptis tentang kemampuan dan kesungguhannya. Dan yang terutama sebenarnya, demi masyarakat DKI dan sekitarnya yang berhak atas kualitas kehidupan yang lebih baik.
Jumat, 26 Oktober 2007
YUK KONTRIBUSI MENGURANGI SAMPAH
Tantangan kehidupan yang kita hadapi dari tahun ke tahun makin banyak dan beragam. Ada yang terkait dengan kepentingan kita pribadi, banyak juga yang terkait dengan kepentingan bersama termasuk kita di dalamnya. Salah satu contoh nyata adalah kondisi lingkungan, khususnya SAMPAH.
Pelan-pelan, tanpa banyak kita sadari, sampah bertambah dengan kecepatan tidak saja deret hitung, tapi mendekati deret ukur. Sederhananya, tambah banyak dan banyak dan banyak terusss. Berdampakkah kepada kita ? TENTU SAJA. Anda masih ingat waktu Bandung menjadi LAUTAN SAMPAH karena kesulitan membuangnya ? Dan banyak dari kita yang senang belanja di FO-FO di sana menjadi sangat terganggu kenyamanannya? Jangan salah, di Jakarta sendiri kita juga pernah dipusingkan oleh sampah, ketika Bantar Gebang sempat diblok oleh Pemda Bekasi. Sampah menumpuk dan bau busuk menebar dimana-mana, termasuk dihalaman rumah kita, karena petugas sampah juga kesulitan membuangnya.
Entah harus bilang 'syukur' atau sebaliknya 'sayang'nya: masalah tersebut (sementara) teratasi, sehingga kita tidak lagi mengalami gunungan sampah yang mengganggu baik dari segi pemandangan, penciuman, maupun kesehatan.
Sejatinya, masalah gunung sampah ini ibarat gunung es, dimana 'gunung' dibawah terus terbentuk semakin besar dan bisa tiba-tiba menyeruak ke permukaan secara tiba-tiba dengan dampak yang dahsyat. Gejalanya sudah ada : berita-berita di media awal tahun ini mengungkapkan, truk-truk sampah DKI ditangkap di Bekasi, di Tangerang karena berusaha membuang sampah di tempat yang bukan peruntukannya. Dan meski pemerintah DKI terus mengupayakan lahan pembuangan, mereka masih belum mendapatkan area yang benar-benar bisa digunakan, aman dari protes, demo, dan perlawanan masyarakat sekitarnya (Wajar: siapa di antara kita yang mau bertetangga dengan lokasi pembuangan sampah; bahkan berjarak berkilo-kilo meter pun baunya masih menyengat!).
Berdasar data: sampah yang dihasilkan masyarakat Jakarta lebih dari 6000 ton per harinya! Memang masih lebih kecil dari volume lumpur Lapindo; tapi kesamaannya: berproduksi terus dengan kecenderungan meningkat! Jadi, adu cepat antara produksi yang dihasilkan dengan penampungan dan pengolahannya. Sementara ini , produksi lebih unggul dari penampungan - pengolahan, dan ke depan penampungan - pengolahan kelihatannya makin sulit untuk bisa memenangkan 'lomba' - bila tingkat percepatan produksi sampah terus sama seperti sekarang.
Tanpa mengingkari adanya penyumbang SAMPAH 'terorganisir' seperti pabrik, rumah sakit, restoran, dsb; kita termasuk penyumbang SAMPAH sekaligus korban dampak tumpukan sampah. Rasanya sudah selayaknya kita bertanggung jawab dan berkontribusi untuk penanggulangannya. Di bawah ini ajakan dan pilihan kontribusi yang sederhana :
1. Sadari betapa banyaknya produksi sampah kita sebagai individu maupun karyawan.
Makanan dan turunannya menjadi penyumbang sampah terbesar. Bayangkan : sarapan mie atau bubur ayam, cuma 5 atau 6 ribu perak kita kenyang, dengan menyumbang sampah: kantong kresek hitam, foam putih pengganti mangkok, plastik cabe, plastik sumpit, dan sumpitnya sendiri. Belum kenyang, kita makan kue atau gorengan, nyumbang lagi minimal kresek lagi. Terus minum green tea, satu botol plastik kemasannya. Jadi, satu individu untuk makan pagi saja sudah menyumbang 7 item sampah. Nanti makan siang, ngemil sore, makan malam, berulang; katakanlah nambah 10 item sampah. Di Jakarta ada berapa jumlah individu ? Berapa jadinya ya total kolektif sampah sisa makan kita ?
Penyumbang lain adalah belanja kita. Nyaris semua belanjaan kita berpackaging : baju, ATK, mainan anak, buku, majalah, VCD & DVD (baik bajakan maupun asli!), tas wanita, minyak wangi, kacamata, kartu pulsa isi ulang, dll, dll. Apalagi kebutuhan sehari-hari: shampoo, sabun, kopi/teh sachet, gula, deodorant, sambal botol, penganan kacang atom, dll, dll. Packaging paling banyak adalah plastik, karena tampak rapi, bersih, dan menarik (dan buat produsen/penjual: makin lama makin murah biayanya!). Selain packaging kemasan produk, kita pasti dapat kresek untuk menjinjingnya - bisa kresek hitam kumal sampai kresek keren dengan cetakan nama tokonya. Ada yang suka menyimpan kemasan dan kresek2 itu? Sebagian besar dari kita langsung menjejalnya ke tempat sampah begitu mengkonsumsi barangnya. Biar tukang sampah yang menangani, begitu kita pikir.
Kalau di kantor, tidak kurang banyak juga yang berpotensi menjadi sampah. ATK, kertas (kebanyakan salah print atau salah copy), kemasan printer baru atau tinta isi-ulangnya, kemasan kertas A4 atau folio, surat dan brosur penawaran, pernik-pernik program promosi, dan banyak lagi.
Totalkan semua produksi sampah di atas. Tak heran juga ya, produksi kolektif sampah kita bisa ribuan ton - PER HARI!
2. Peduli tentang dampak produksi sampah.
Karena dampak tidak langsung, kita sering tidak terlalu aware akan dampak buruk produksi sampah tsb KEPADA KITA SENDIRI. Dari uraian di atas, saya berharap kita sudah bisa paham dan sadar dampak yang kita bisa berikan kepada kita baik secara individu, keluarga maupun sebagai masyarakat bersama. Dan lebih peduli serta lebih sadar setiap kali membuang sesuatu ke kotak sampah. Minimal ada sedikit rasa salah atau gak enak gitu lho!
3. Kurangi produksi sampah.
Semua upaya pengurangan produksi sampah sebenarnya simpel, untuk setiap individu yang peduli dampak sampah. Misalnya :
a. sedapat mungkin mengembalikan kresek yang diberi setiap kita membeli sesuatu, bila masih bisa kita jinjing tanpa kresek. Gabungkan bila kita belanja beberapa item, supaya konsumsinya satu kresek. (Kita suka berpikir: nanti kreseknya kita simpan dan akan kita gunakan lagi. Kenyataannya : lebih banyak pikir/omong kosong, krn begitu banyak dan mudahnya kresek kita terima/dapatkan, sehingga jarang orang menyimpannya - terutama kresek yang hitam dan agak berbau dan memang murah itu! Yang juga paling banyak kita jumpai di tumpukan sampah!)
b. kembalikan tradisi lama, yaitu membawa tas permanen/semi permanen untuk belanjaan kita. Biasanya kita gengsi kali ya, karena akan dianggap kuno, bahkan norak oleh orang-orang modern di sekitar kita. Tapi ingat, betapa mulianya perbuatan ini, he he he … (Saya jadi terpikir, laku nggak ya kalau ada tas belanja semi permanen yang bisa memberi citra keren bagi pembawanya, dengan berlabel: AKU PENCINTA LINGKUNGAN!)
c. meminimalkan buangan kemasan dari makanan kita. Sedikit ekstrimnya : kalau mau jajan bubur ayam, ya makan di tempat abangnya saja, supaya tidak perlu stereo form + plastik cabe + plastik krupuk + kresek!
4. Pilah dan atur pembuangan sampah.
Kalau kurangi sampah sudah optimal, Lakukan sedikit ektra usaha, dengan mengelompokkan sampah dan tampungannya di tempat kita. Kemasan-kemasan karton produk susu, kopi dan consumables lainnya, pisahkan dari sampah basah sisa-sisa makanan kita. Demikian juga plastik, kresek, dan sejenisnya. Sampah kering bisa kita berikan pada pemulung. Atau jangan-jangan bisa kita manfaatkan secara kreatif ?!?.
Yang jelas, mengurangi akumulasi sampah yang dikumpulkan petugas sampah - sekaligus membantu pencaharian pemulung. Kembali, betapa mulianya …!
5. Masih banyak lainnya, tapi pada intinya adalah 4 langkah dasar di atas. Yuk, teman-teman, kita lebih peduli untuk lingkungan kita bersama, dengan mengurangi produksi dan mengelola sampah kita!
Pelan-pelan, tanpa banyak kita sadari, sampah bertambah dengan kecepatan tidak saja deret hitung, tapi mendekati deret ukur. Sederhananya, tambah banyak dan banyak dan banyak terusss. Berdampakkah kepada kita ? TENTU SAJA. Anda masih ingat waktu Bandung menjadi LAUTAN SAMPAH karena kesulitan membuangnya ? Dan banyak dari kita yang senang belanja di FO-FO di sana menjadi sangat terganggu kenyamanannya? Jangan salah, di Jakarta sendiri kita juga pernah dipusingkan oleh sampah, ketika Bantar Gebang sempat diblok oleh Pemda Bekasi. Sampah menumpuk dan bau busuk menebar dimana-mana, termasuk dihalaman rumah kita, karena petugas sampah juga kesulitan membuangnya.
Entah harus bilang 'syukur' atau sebaliknya 'sayang'nya: masalah tersebut (sementara) teratasi, sehingga kita tidak lagi mengalami gunungan sampah yang mengganggu baik dari segi pemandangan, penciuman, maupun kesehatan.
Sejatinya, masalah gunung sampah ini ibarat gunung es, dimana 'gunung' dibawah terus terbentuk semakin besar dan bisa tiba-tiba menyeruak ke permukaan secara tiba-tiba dengan dampak yang dahsyat. Gejalanya sudah ada : berita-berita di media awal tahun ini mengungkapkan, truk-truk sampah DKI ditangkap di Bekasi, di Tangerang karena berusaha membuang sampah di tempat yang bukan peruntukannya. Dan meski pemerintah DKI terus mengupayakan lahan pembuangan, mereka masih belum mendapatkan area yang benar-benar bisa digunakan, aman dari protes, demo, dan perlawanan masyarakat sekitarnya (Wajar: siapa di antara kita yang mau bertetangga dengan lokasi pembuangan sampah; bahkan berjarak berkilo-kilo meter pun baunya masih menyengat!).
Berdasar data: sampah yang dihasilkan masyarakat Jakarta lebih dari 6000 ton per harinya! Memang masih lebih kecil dari volume lumpur Lapindo; tapi kesamaannya: berproduksi terus dengan kecenderungan meningkat! Jadi, adu cepat antara produksi yang dihasilkan dengan penampungan dan pengolahannya. Sementara ini , produksi lebih unggul dari penampungan - pengolahan, dan ke depan penampungan - pengolahan kelihatannya makin sulit untuk bisa memenangkan 'lomba' - bila tingkat percepatan produksi sampah terus sama seperti sekarang.
Tanpa mengingkari adanya penyumbang SAMPAH 'terorganisir' seperti pabrik, rumah sakit, restoran, dsb; kita termasuk penyumbang SAMPAH sekaligus korban dampak tumpukan sampah. Rasanya sudah selayaknya kita bertanggung jawab dan berkontribusi untuk penanggulangannya. Di bawah ini ajakan dan pilihan kontribusi yang sederhana :
1. Sadari betapa banyaknya produksi sampah kita sebagai individu maupun karyawan.
Makanan dan turunannya menjadi penyumbang sampah terbesar. Bayangkan : sarapan mie atau bubur ayam, cuma 5 atau 6 ribu perak kita kenyang, dengan menyumbang sampah: kantong kresek hitam, foam putih pengganti mangkok, plastik cabe, plastik sumpit, dan sumpitnya sendiri. Belum kenyang, kita makan kue atau gorengan, nyumbang lagi minimal kresek lagi. Terus minum green tea, satu botol plastik kemasannya. Jadi, satu individu untuk makan pagi saja sudah menyumbang 7 item sampah. Nanti makan siang, ngemil sore, makan malam, berulang; katakanlah nambah 10 item sampah. Di Jakarta ada berapa jumlah individu ? Berapa jadinya ya total kolektif sampah sisa makan kita ?
Penyumbang lain adalah belanja kita. Nyaris semua belanjaan kita berpackaging : baju, ATK, mainan anak, buku, majalah, VCD & DVD (baik bajakan maupun asli!), tas wanita, minyak wangi, kacamata, kartu pulsa isi ulang, dll, dll. Apalagi kebutuhan sehari-hari: shampoo, sabun, kopi/teh sachet, gula, deodorant, sambal botol, penganan kacang atom, dll, dll. Packaging paling banyak adalah plastik, karena tampak rapi, bersih, dan menarik (dan buat produsen/penjual: makin lama makin murah biayanya!). Selain packaging kemasan produk, kita pasti dapat kresek untuk menjinjingnya - bisa kresek hitam kumal sampai kresek keren dengan cetakan nama tokonya. Ada yang suka menyimpan kemasan dan kresek2 itu? Sebagian besar dari kita langsung menjejalnya ke tempat sampah begitu mengkonsumsi barangnya. Biar tukang sampah yang menangani, begitu kita pikir.
Kalau di kantor, tidak kurang banyak juga yang berpotensi menjadi sampah. ATK, kertas (kebanyakan salah print atau salah copy), kemasan printer baru atau tinta isi-ulangnya, kemasan kertas A4 atau folio, surat dan brosur penawaran, pernik-pernik program promosi, dan banyak lagi.
Totalkan semua produksi sampah di atas. Tak heran juga ya, produksi kolektif sampah kita bisa ribuan ton - PER HARI!
2. Peduli tentang dampak produksi sampah.
Karena dampak tidak langsung, kita sering tidak terlalu aware akan dampak buruk produksi sampah tsb KEPADA KITA SENDIRI. Dari uraian di atas, saya berharap kita sudah bisa paham dan sadar dampak yang kita bisa berikan kepada kita baik secara individu, keluarga maupun sebagai masyarakat bersama. Dan lebih peduli serta lebih sadar setiap kali membuang sesuatu ke kotak sampah. Minimal ada sedikit rasa salah atau gak enak gitu lho!
3. Kurangi produksi sampah.
Semua upaya pengurangan produksi sampah sebenarnya simpel, untuk setiap individu yang peduli dampak sampah. Misalnya :
a. sedapat mungkin mengembalikan kresek yang diberi setiap kita membeli sesuatu, bila masih bisa kita jinjing tanpa kresek. Gabungkan bila kita belanja beberapa item, supaya konsumsinya satu kresek. (Kita suka berpikir: nanti kreseknya kita simpan dan akan kita gunakan lagi. Kenyataannya : lebih banyak pikir/omong kosong, krn begitu banyak dan mudahnya kresek kita terima/dapatkan, sehingga jarang orang menyimpannya - terutama kresek yang hitam dan agak berbau dan memang murah itu! Yang juga paling banyak kita jumpai di tumpukan sampah!)
b. kembalikan tradisi lama, yaitu membawa tas permanen/semi permanen untuk belanjaan kita. Biasanya kita gengsi kali ya, karena akan dianggap kuno, bahkan norak oleh orang-orang modern di sekitar kita. Tapi ingat, betapa mulianya perbuatan ini, he he he … (Saya jadi terpikir, laku nggak ya kalau ada tas belanja semi permanen yang bisa memberi citra keren bagi pembawanya, dengan berlabel: AKU PENCINTA LINGKUNGAN!)
c. meminimalkan buangan kemasan dari makanan kita. Sedikit ekstrimnya : kalau mau jajan bubur ayam, ya makan di tempat abangnya saja, supaya tidak perlu stereo form + plastik cabe + plastik krupuk + kresek!
4. Pilah dan atur pembuangan sampah.
Kalau kurangi sampah sudah optimal, Lakukan sedikit ektra usaha, dengan mengelompokkan sampah dan tampungannya di tempat kita. Kemasan-kemasan karton produk susu, kopi dan consumables lainnya, pisahkan dari sampah basah sisa-sisa makanan kita. Demikian juga plastik, kresek, dan sejenisnya. Sampah kering bisa kita berikan pada pemulung. Atau jangan-jangan bisa kita manfaatkan secara kreatif ?!?.
Yang jelas, mengurangi akumulasi sampah yang dikumpulkan petugas sampah - sekaligus membantu pencaharian pemulung. Kembali, betapa mulianya …!
5. Masih banyak lainnya, tapi pada intinya adalah 4 langkah dasar di atas. Yuk, teman-teman, kita lebih peduli untuk lingkungan kita bersama, dengan mengurangi produksi dan mengelola sampah kita!
Langganan:
Komentar (Atom)
